Menyusul buku laris “Kubik Leadership”, Jamil Azzaini meluncurkan buku terbaru karyanya berjudul “Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia” yang merupakan kisah-kisah inspiratif pembangkit motivasi dan pemakna hidup.
“Kisah-kisah yang tertulis dan terangkum dalam buku ini merupakan kumpulan pengalaman dan pengamatan hidup saya,” kata Jamil, pendiri PT Kubik Kreasi Sisilain yang giat menyelenggarakan pelatihan SDM di berbagai perusahaan atau instansi dalam dan luar negeri.
Jamil dan keluarganya membuktikan bahwa kehidupan mereka yang semula miskin, tinggal di gubuk tengah hutan di daerah transmigrasi di Rejomulyo Kecamatan Tanjung Bintang Lampung Selatan berubah menjadi sukses dan mulia. Mereka mewujudkan impian.
Banyak tokoh berlatar belakang keluarga miskin seperti mantan Presiden Soeharto (almarhum), bintang film Sylvester Stallone, penyanyi Madonna, bahkan pelawak Tukul Arwana, kemudian menjadi orang sukses yang dipuja-puja.
Namun yang telah diraih Jamil memberikan pelajaran sangat berharga dan langka yakni bila kesuksesan diukur dengan harta, tahta, kata, dan cinta alias “4-ta” maka semua itu tidak cukup membuat hidup manusia utuh dan bahagia.
“Keberadaan 4-ta yang telah kita miliki harus pula dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar kita. Kehidupan kita haruslah selalu disibukkan berbagi 4-ta sehingga keberadaan kita benar-benar menjadi gardu Energi Positif (Epos) Tuhan di muka bumi. Itulah energi yang saya sebut sebagai Inspirasi Sukses Mulia,” kata Jamil yang dikenal sebagai Mr. Epos.
Sukses Mulia yang dicapai Jamil, sebagaimana ditulis dalam pengantar buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Februari 2008 ini, sampai pada sebuah titik keyakinan bahwa Tuhan akan memberi dan mengabulkan keinginan manusia berdasarkan sangkaan manusia itu sendiri.
“Bila kita yakin bahwa kita akan sukses maka sukseslah kita. Namun bila kita berpikir akan gagal maka gagallah kita,” kata Jamil.
Rangkaian inspirasi
Kisah-kisah dalam buku setebal xxiv+174 halaman ini merupakan rangkaian inspirasi terstruktur yang terbagi dalam tujuh bab utama.
Bab “Anak Desa Menjemput Impian” merupakan kumpulan kisah tentang pentingnya memiliki impian. Bab ini terbagi lima tema tulisan yakni “Impian Hidup’, “Kerang Mutiara atau Kerang Rebus”, “Si Pitak yang Jadi Insinyur Pertanian”, “Getaran Positif”, dan “Undanglah ‘Hiu-Hiu Kecil’ Dalam Kehidupan Anda”.
Bab ini menorehkan perjalanan hidup Jamil - kelahiran Purworejo, Jateng 9 Agustus 1968 - bersama ayah-ibu, Ahmad Zaini dan Wasiyem, seorang kakak, dan dua adiknya yang terjerat kemiskinan tetapi tetap bersemangat menggapai kesuksesan.
“Namaku Jamil, cita-citaku menjadi insinyur pertanian/dosen/guru”, itulah mantera ajaib (magic words) yang ditulis di berbagai buku Jamil ketika kecil.
Jamil kecil bercita-cita menjadi insinyur pertanian karena hampir setiap hari ia melihat kehidupan para asisten perkebunan di PTP XI Lampung (sekarang PT Nusantara VII) ketika itu begitu enaknya.
Ingin menjadi guru karena dihormati dan disegani, dan ingin menjadi dosen karena cerita kakaknya tentang sosok dosen matematika bernama Bukhori yang memiliki kemampuan mengajar luar biasa.
Mantera ajaib itu kerap menjadi bahan tertawaan sinis teman sekolah maupun sepermainan Jamil bahkan oleh sesepuh kampung yang melecehkan cita-citanya.
Mereka melecehkan Jamil karena kehidupannya yang miskin, sehari-hari hanya makan tiwul, kerap menunggak uang sekolah meski hanya dua puluh lima rupiah per bulan.
Namun Jamil dapat membuktikan bahwa ia berhasil menempuh SD, SMP, dan SMA dengan prestasi selalu menjadi juara kelas meski sehari-hari menempuh perjalanan sejauh 40 km menuju sekolahnya ketika menjadi siswa SMA Negeri Way Halim.
Atas prestasinya, ia diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1987 tanpa tes, melalui program PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).
Lagi-lagi Jamil dan ayahnya dilecehkan oleh orang kaya di kampungnya yang tidak bersedia meminjamkan uang sebesar Rp300 ribu untuk ongkos ke Bogor dan membayar uang pendaftaran di IPB.
“Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha kok mau kuliah. Baru mau berangkat kuliah saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?” tulis Jamil menirukan hinaan orang kaya tersebut yang membuat Jamil dan ayahnya menangis ketika itu (halaman 11).
Atas semangatnya, Jamil berhasil menjadi insinyur pertanian yang dicita-citakannya bahkan lulus dari program pascasarjana S-2.
Jamil membuktikan diri menjadi kerang mutiara bukan kerang rebus sebagaimana perumpamaan yang kerap didongengkan ayahnya. Tema kerang mutiara dan kerang rebus dalam bab ini sangat inspiratif dan memotivasi meraih hidup lebih hidup.
Bab “Penghambat Sukses” mengajak pembaca memahami kendala diri. Bab ini terbagi empat tema tulisan yang masing-masing diberi judul “Bakar ‘Kapal’ Anda”, “Menjadi Penumpang Berprestasi atau Penumpang Gelap”, “Memutus ‘Rantai Gajah’”, dan “Kutu Dalam Kotak Korek Api”.
Pada bab ini digambarkan kisah Thoriq Bin Ziyad bersama 7.000 anggota pasukannya mampu mengalahkan pasukan Raja Roderic yang memiliki sekitar 100.000 prajurit sehingga berhasil menaklukkan Spanyol pada 3 Mei 711.
Termasuk kisah Herman Cortez bersama pasukannya pada abad 16 yang menemukan tambang emas di Meksiko setelah mengalahkan pasukan Aztec yang sangat ganas dan juga berada di wilayah tambang emas itu.
Keberhasilan Thoriq dan Herman dicapai ketika mereka membakar kapal yang bisa membuat demotivasi pasukannya untuk melawan musuh.
Hikmah yang disampaikan Jamil dari kisah itu adalah pertama bila ingin memenangkan persaingan dalam kehidupan jangan pernah punya rencana untuk lari dari gelanggang, kedua, jangan silau dengan kesuksesan masa lampau, dan ketiga, singkirkan “comfort zone”
Pada bab ini juga dikisahkan keterbatasan fisik pelawak Ucok Baba, cacat buta, tuli, dan gagu pada Helen Keller tetapi mampu lulus dari Universitas Harvard, dan pianis dunia asal Korea Hee Ah Lee yang hanya memiliki masing-masing dua jari di tangan kanan dan tangan kirinya, atau Bill Gates yang tak lulus sarjana tetapi menjadi raja komputer dan menjadi orang terkaya di dunia.
Jamil mencuri Uang Ibunya
Bab “Belajarlah Dari Siapa Pun” mengajak pembaca pada proses yang harus dijalani untuk menggapai kesuksesan.
Bab ini memuat sembilan tema tulisan yang memuat kisah sejumlah tokoh seperti khalifah Usman bin Affan yang membagikan seluruh dagangannya untuk rakyat miskin, khalifah Umar bin Abdul Aziz pada era 99H yang mampu mencapai kemakmuran dan kejayaan rakyatnya meski kekayaan Umar berkurang dari 40 ribu dinar menjadi hanya 400 dinar.
Dikisahkan pula tentang Bahran yang selalu bersedekah senyum sehingga membuat ibunya yang sakit dapat diobati setelah biaya pengobatannya ditanggung oleh seseorang yang terkesan dengan senyum Bahran.
Digambarkan pula kisah nyata Pak Kusnin dan Pak Bejo yang tinggal di kampung Jamil. Kusnin dan Bejo sama-sama memiliki empat anak. Yang membedakan, Kusnin berlatar belakang miskin bisa hidup sukses dan anak-anaknya menjadi orang sukses sebaliknya Bejo yang berlatar belakang kaya raya menjadi jatuh miskin dan anak-anaknya hidup sengsara bahkan dipenjara.
Bab “Cinta dan Keluarga” dapat menyadarkan pembaca akan pentingnya peran anggota keluarga dalam tiap langkah kehidupan.
Yang sangat menarik disajikan dalam bab ini adalah kisah Dwi Riani Julyastuti, isteri Jamil yang sedang hamil delapan bulan, pada September-Oktober 2003 dirawat di perawatan intensif (ICU) di sebuah rumah sakit.
Kekayaan Jamil ludes untuk mengobati Ria tetapi penyakitnya belum ditemukan sehingga dokter menawarkan obat baru seharga Rp12 juta untuk sekali suntik padahal sehari dibutuhkan tiga kali suntikan.
Jamil kemudian berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan Ria dan minta ditunjukkan keburukan yang pernah dilakukannya.
Tiba-tiba terlintas dalam ingatan bahwa Jamil saat kecil pernah mencuri uang ibunya sebesar Rp125 untuk keperluan bayar sekolah dan jajan padahal uang itu untuk membayar utang ibunya kepada orang lain.
Ketika kecil Jamil tak mengakui perbuatannya dan ibunya sempat mengatakan yang mengambil akan kualat.
Atas dosa tersebut, Jamil dari rumah sakit kemudian menghubungi ibunya untuk meminta maaf. Ibunya mencabut kata-kata kualat tersebut dan secepat itu pula dokter memberitahukan bahwa penyakit Ria telah ditemukan, infeksi pankreas, bisa diobati sehingga segera membaik.
Sejak itu Jamil kian meyakini hukum kekekalan energi yang intinya sama dengan petuah agama.
“Apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan kita pun akan mendapat balasan berupa keburukan pula”.
Bab “Meraih Sukses Mulia” menekankan pembaca untuk menebarkan energi positif dalam hidup dan memberi manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Jamil mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan “Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain”.
Kisah M Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mampu mengentaskan kemiskinan di 46 ribu desa sehingga dia meraih hadiah Nobel pada 2006, disebut Jamil sebagai salah seorang yang menjadi gardu energi positif dunia.
Pada bab “Yang Ditanam Itulah yang Dituai” Jamil mengingatkan tentang dampak yang pasti diterima atas apa yang telah diperbuat.
Pada bab ini antara lain dikisahkan seorang pimpinan perusahaan yang sering menerima uang yang bukan haknya hingga berjumlah Rp526 juta. Belakangan ia tertimpa musibah, anaknya terjerat narkoba dan menghabiskan biaya pengobatan juga sebesar Rp526 juta.
“Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak,” kata pimpinan perusahaan itu kepada Jamil (halaman 136).
Jamil mengingatkan, “Bila kita mengeluarkan energi positif, buahnya adalah kebaikan, kedamaian, kebahagiaan, dan hal positif lainnya. Bila kita mengeluarkan energi negatif, yang akan kita panen adalah penderitaan, musibah, rasa sakit, dan hal negatif lainnya”.
Sementara bab terakhir “Menjaga Hasil yang Dituai” merupakan kisah yang akan memberi inspirasi melanggengkan kesuksesan seseorang dalam memberi manfaat kepada masyarakat.
“Jadikan setiap detik yang kita punya membawa manfaat buat kita, keluarga, saudara, masyarakat, dan bangsa,” kata Jamil (halaman 168).
April 3rd, 2008 at 7:36 am
terimakasih Pak, saya udah dapat gratisannya kemarin setelah acara yang anda bawakan di Bank Indonesia.
April 7th, 2008 at 7:02 pm
Wah senang sekali bisa ketemu dengan blog pak Jamil yang meneduhkan dan inspiratif ini ..nanti saya mau beli bukunya ah .. atau pak jamil mau kirim gratisan buat saya ? hehe .. *ngarep* Mudah2an saya juga bisa dapet gelar hebat Ms. Epos seperti pak Jamil yang Mr. Epos, supaya bisa menyebarkan energi positif ke sekeliling saya .. Amiien
Salam Epos,
Ita / Enny Rahmita
Salah satu membernya Pak Roni TDA juga neeh ..
June 10th, 2008 at 4:44 pm
pa jamil ditunggu di bandung…temen - temen sukses mulia bandung pengen banget ketemu neh…mudah - mudahan bisa segera sharing di baandung yach…mksh