back to niriah

Book

Anakku Pulang Dari Hongkong

Dua pekan terakhir saya disibukkan dengan training dan seminar Kubik Leadership di Bank Mandiri, Sucofindo, Holcim, Bank DKI dan Bank Niaga. Sementara untuk kegiatan sosial saya berkesempatan memberikan pencerahan di 300 lebih ibu-ibu penggerak PKK kota Bogor dan Para pengurus dan pendiri BMT (Baitul Maal wat Tamwwil) Berkah Madani di Depok.

Di BMT Berkah Madani alhamdulillah saya bertemu dengan sahabat-sahabat lama saya; ada Pak Aries Mufti, dan juga rekan-rekan saya dari PNM, Pak Win (Mantan Dirut PNM), Mas Andi dan Pak Asril. Selain saya berbagi ilmu yang bersumber dari buku kedua saya Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia (Gramedia) saya sangat senang mendengar laporan perkembangan BMT Berkah Madani.

BMT yang berasset Rp 2.4 M lebih ini ternyata telah menginspirasi lahirnya BMT-BMT lain di Jakarta, Bekasi dan Bandung. Bahkan diantara BMT-BMT yang lahir atas jasa baik BMT Berkah Madani assetnya banyak yang telah melebihi Rp 5 M. Senang rasanya melihat teman-teman tetap peduli di tengah kesibukkan mereka yang luar biasa.

Nah, diantara kesenangan-kesenangan yang saya sebutkan di atas ada kesenangan lain yang benar-benar membuat saya bahagia. Ketika saya menjemput anak saya yang hari ini (26 Maret) genap berusia 16 Tahun pulang dari Hongkong. Anak pertama saya, Nadhira. baru kelas 3 SMP, dia magang di Hongkong sendirian. Saya ingin anak saya belajar tentang kehidupan para TKW di Hongkong dan membantu rekan saya yang peduli dengan para TKW di Hongkong.

Seusai acara saya bedah buku di SMART FM saya langsung meluncur ke bandara. Rinduku sudah membuncah ingin bertemu anak saya yang sudah 3 pekan berpisah. Melihat saya datang anak saya berlari menyambut saya, dia peluk saya, dia beri ciuman rindu kepada saya.

Di perjalanan pulang, Nadhira tidak henti cerita pengalamannya di Hongkong, “Ruarrr Biasa” di sela-sela dia cerita entah mengapa air mata ini menetes di pipi. Dia juga cerita tentang kejengkelannya dengan orang Indonesia yang duduk di pesawat bersebelahan dengannya. “Kelihatnnya dia pejabat tuch pak. Dia malah nakut-nakutin mbak Dhira nggak bisa keluar bandara, mahal senyum lagi.” cerita anak saya.

“Pramugarinya juga ketus pak. Masak mbak Dhira tanya malah dimarahin. capek dech…” sambung Nadhira. “Koq orang-orang Indonesia malah nggak menghormati temennya sendiri ya pak?” pertanyaan Nadhira yang belum saya jawab hingga saya menulis ini.

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | March 26, 2008

3 Responses to “Anakku Pulang Dari Hongkong”

  1. iya sich………
    kenapa banyak orang intelektual merendahkan para TKI, mungkin malu kali punya teman TKI.Aku juga merasa sakit hati dengan ketidak adilan ini.Orang-orang pintar gak tau sih trus gak menanyakan mengapa aku jadi TKW.pasti akan ku jawab karena aku orang yang gak punya trus mau cari uang untuk menikah serta membantu ortu meringankan beban ortu.Bukan bersenang-senang.

  2. subhanallah…
    betapa mahal pembelajaran bagi anak-anak kita untuk dapat mandiri. Tak terbayangkan untuk berpisah dengan buah hati yang biasa kita jumpa denan mudah
    subhanallah
    betapa mahal pembelajaran yang harus kita keluarkan cost-nya. Butuh 1-2 generasi sehingga generasi yang akan datang dapat melayani ummatnya dengan seadil-adilnya..
    subhanallah, maha suci Allah yang telah memberikan semua ini sebagai pelajaran kita semua

  3. alhamdulillah saya dah setahun kerja di middlle east. setiap kali pulang ke tanah air, selalu bareng2 satu pesawat dengan mbak2 yg TKW, yg di midle east jadi.. maaf PRT ( Pembantu Rumah Tangga ), salut buat mbak2 yg berjuang demi sesuap nasi jadi TKW di middle east, hanya emang sih banyak temen2 ( yg merasa dari kelas TKI yg profesional )yg merasa malu n masih aja merendahkan mbak2 tkw ini,misal :kalo bisa satu pesawt jangan duduk bersebelahan,engga mau kenal / sombong thdp mbak2 TKW, dll.

Leave a Reply