Percayakah Anda bahwa impian mempunyai kekuatan untuk mengubah hidup seseorang? Jamil Az-Zaini telah membuktikannya. Inspirator, konsultan pengembangan diri, inspirator, dosen pascasarjana, penulis buku laris KUBIK Leadership: Solusi Esensial Meraih Sukses Hidup, dan trainer KUBIK Leadership Jakarta itu menceritakan pengalaman pribadinya dalam talkshow promo di radio JJFM, akhir Maret lalu.
Ia mengaku masa kecilnya dilewatkan dalam kekurangan. Ada satu pesan ayahnya yang selalu diingat Jamil. Yaitu, meskipun kita miskin harta, jangan sampai miskin cita-cita. “Pesan itu selalu saya pegang. Karena tinggal di daerah perkebunan, saya ingin menjadi insinyur pertanian. Teman dan guru mengatakan cita-cita saya mustahil. Saya selalu menulis cita-cita itu di bagian depan semua buku tulis saya,” tutur Jamil. Hasilnya, ia bukan hanya meraih gelar insinyur dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Jamil juga berhasil menjadi dosen pascasarjana dan sukses menekuni sederet profesi lain.
Menurut penulis yang sebulan lalu meluncurkan buku “Meraih Sukses: Kisah-Kisah Inspiratif Pembangkit Motivasi Pemaknaan Hidup” itu, orang sukses adalah seseorang yang mencapai empat ta. Apa saja? Kata, tahta, harga, dan cinta. Empat ta tersebut dicapai dengan kemampuan sendiri dan tanpa melanggar hukum Tuhan maupun sikut kanan-kiri.
“Pengamatan saya, orang yang telah meraih empat ta biasanya tidak bahagia di hari tua. Karena itu saya tambahkan lagi satu unsur kesuksesan: mulia. Kalau kita berbuat mulia di dunia, balasannya mulia pula di dunia,” tukasnya.
Secara singkat, lanjut Jamil, ada dua langkah praktis untuk mewujudkan impian. Pertama, tuliskan impian. Kedua, upayakan untuk menjadikannya nyata. Dua langkah yang sepintas sederhana itu praktiknya tak mudah dilakukan. Perlu proses panjang yang harus dilalui. “Kalau Anda ingin menjadi Bill Gates, misalnya, Anda harus mengikuti proses yang dulu dilalui Bill Gates hingga menjadi seperti sekarang. Kalau tidak, impian Anda akan tersimpan selamanya,” katanya.
Lingkungan yang tepat dan dukungan orang terdekat juga memiliki peranan sangat penting. “Orang tua, saudara, dan pasangan hidup amat menentukan kesuksesan seseorang. Saya sangat setuju dengan pendapat di balik laki-laki yang hebat, ada wanita yang hebat. Jadi jangan salah memilih pasangan hidup,” tegas Jamil. Ia meyakini bahwa keberadaan seseorang dalam 10-20 mendatang ditentukan oleh orang-orang di sekitar orang itu pada saat ini.
Penjelasan lebih lengkap tentang langkah-langkah mewujudkan impian dapat Anda baca di buku terbaru Jamil az-Zaini, “Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia”. (lee)
June 5th, 2008 at 5:09 pm
sangat menginspirasi… terimakasih mas…
July 3rd, 2008 at 7:12 pm
Mas Jamil..saya pendengar setia anda di radio Trijaya Jogja. Sukses dengan kekuatan impian, adalah hal yang masih saya lakukan hingga sekarang. Punya sejarah masa kecil dengan ekonomi pas- pasan, saya dulu selalu berkhayal tentang masa depan saya ketika sudah dewasa. saya bayangkan, saya sukses, punya keluarga bahagia dan harta melimpah. HAl itulah yang memotivasi saya untuk mulai belajar cari uang jajan sendiri sejak SMA. Saya menjual makanan kecil di kelas waktu istirahat tiba. Lumayan..saya bisa nabung dan membeli baju serta perlengkapan sekolah yang saya inginkan. Saya juga gabung dengan sebuah Wedding Organizer sebagai karyawan lepas. Tugas saya menjadi penerima tamu acara pesta pernikahan yang digarap di akhir pekan. Setelah lulus SMA, saya dapat bea siswa untuk kuliah di fak Ekonomi Manajemen sebuah Universitas swasta di Jogja. Seolah tak henti mengejar impian, saya mulai bekerja paruh waktu di radio swasta sebagai penyiar. Hal ini terus berlanjut, hingga akhirnya saya lulus kuliah dan diterima bekerja sebagai Music Director sebuah radio Network terbesar di Indonesia yang membuka cabang di Jogja. Tak puas sampai di sini, setelah menikah, saya yang hobby memasak, membuka usaha sampingan D&D Catering, jasa catering yang mengolah makanan tanpa MSG pertama di JOgja. Saya merasa, bahwa mimpi saya takkan pernah usai. TApi, saat ini, mimpi saya bukan lagi mengumpulkan materi semata, tapi ingin menjadi ibu terbaik bagi 2 putri saya dan istri yang bisa dibanggakan suami. Untuk itu, di tengah kesibukan yang padat, saya masih sempat menjadi mentor belajar anak- anak di malam hari. Syukurlah, prestasi mereka bagus, selalu masuk 3 besar di kelas. Saya juga belajar potong rambut dan pijat refleksi secara otodidak, dengan membaca buku maupun browsing internet. Suami, anak- anak, pembantu, keluarga dan tetangga dekat, tak segan minta dipijat jika merasa tak sehat, atau dipotong rambutnya sesuai yang diinginkan, tanpa saya pungut biaya alias gratis. Syukurlah, keluarga saya hampir tak pernah ke dokter dan salon. Suami tak lagi creambath di salon, hal yang sempat bikin saya BETE. Di usia 37 tahun, saya masih ingin meraih mimpi lain yang belum tercapai, yakni mengantarkan anak- anak saya menjadi wanita- wanita sukses dalam cita, cinta dan sosial. Dan seperti yang Mas Jamil sampaikan, saya juga ingin jadi wanita yang mulia hingga akhir hayat, paling tidak, mulia di mata Tuhan, keluarga dan lingkungan terdekat saya. Kapan roadshow ke JOgja, mas?
July 4th, 2008 at 11:29 am
Mbak Nora, luar biasa Anda. Senang bila suatu saat kita bisa berbagi. Bila tidak ada halangan, tangal 21-22 Juli saya ke Yogya. Salam buat suami anda yang bersyukur mendapatkan istri seperti Anda.
Salam SUKSESMULIA
Jamil Azzaini
October 18th, 2008 at 10:52 pm
saya punya impian saya ingin membahagiakan orang tua saya, ayah saya kerja di PT. Freeport Indonesia, 15 tahun ibu pisah dengan ayah, ayahku pulang cuman 2 kali setahun untuk cuti kerja itupun 1x cuti cuman 21 hari. impian terbesar saya, ingin menyatukan t4 tingga mereka, saya pasti sukses ditiens mencapai *8 2010, sekarang saya sudah *5, saya pasti bisal. Amin…. doakan ya…sukses!!!
Akbar Syahruddin, Makassar..
Salam sukses buat impianmu….
October 20th, 2008 at 4:13 pm
Ustadz Jamil, mungkin Anda belum baca tulisan saya (dengan nickname) di Deras DD Republika beberapa waktu lalu. Ini kukasih soft copy-nya.
Yakinlah, Indonesia Bisa Lebih Baik
Sebagai modal awal, bagaimanapun juga kita harus tetap optimis. Optimis bahwa Bangsa Indonesia masih berpeluang untuk menjadi Bangsa modern, beradab, dan penuh curahan berkah dan rahmat Ilahi.
‘’Mas, gimana sih caranya membuat tulisan seperti ini?’’ kata Jamil Azzaini sambil menunjuk kolom Resonansi di Harian Republika. ‘’Ya kamu setiap hari harus berlatih menulis seperti ini sampai beberapa tahun ke depan,’’ Jamil mengutip jawaban Zaim Uchrowi, penulis kolom tersebut.
Percakapan itu diceritakan Jamil pada 1996, saat dia masih koordinator program ekonomi produktif Dompet Dhuafa (DD). Jamil memang termasuk penggemar Resonansi Zaim Uchrowi, yang menurutnya ‘’pendek, enak dibaca, menyentuh, dan selalu optimis’’.
Karena Jamil bercerita sambil nyengir, waktu itu tak ada kawan-kawan sekantornya yang menyangka bahwa ia akan bisa meniru –apatah lagi melebihi– tulisan Mas Zaim.
Sepuluh tahun kemudian, Jamil salah satu direktur DD. Ia pun mulai rutin menulis essay di sebuah halaman Republika yang dikapling DD. Tulisannya bukan basa-basi –sekadar karena dia direktur yang harus ngomong.
Tema sentral tulisan Jamil adalah energi positif (epos, yang menjadi nama kolomnya). Sedekah, menolong, sangka baik, optimis, adalah contoh energi dimaksud. Jamil tak segan mengungkapkan pengalaman dirinya, baik saat beroleh reward atas energi positif yang dikeluarkannya, maupun punishment atas energi negatif yang dipancarkannya.
Kini, Jamil yang sudah alumnus DD, menjadi seorang super-trainer nasional yang piawai mendakwahkan epos melalui lisan maupun tulisan. Sejumlah buku telah lahir dari tangannya, dan jadi best seller.
Rupanya, dulu di tengah sikapnya yang suka slengekan, cengar-cengir, dan agak gagap, Jamil diam-diam rajin mengonsumsi spirit optimisme yang menjiwai kolom Zaim Uchrowi. Sambil menatah tekad dalam dada, bahwa suatu saat aku pun bisa!
Kini, terus terang saja, optimisme yang ditebar Mas Zaim lewat Resonansi-nya, seringkali terasa berlebihan. Apalagi bila membaca Resonansi Ahmad Syafi’i Ma’arif saat ‘’menelanjangi’’ Indonesia habis-habisan dengan nada tulisan yang mengguratkan rasa geram, sedih, kecewa, dan sepertinya hopeless.
Lihat saja salah satu penyakit kronis bangsa kita: korupsi. Korupsi telah berada di luar kontrol, keluh Presiden SBY pada awal Agustus lalu. Hasil penyigian PERC (Political and Economic Risk Consultancy) pada Januari-Pebruari 2008 atas 1.400 pebisnis asing, menempatkan Indonesia sebagai ‘’juara’’ ketiga dalam jajaran 13 negara di Asia terkorup, dengan index 7,98. ‘’Mengalahkan’’ Vietnam (peringkat 5) dan Macau (10).
Sidang-sidang pengadilan Tipikor membuktikan bahwa korupsi semakin menjamaah. Dan karenanya, para pelaku pun kian hilang malu. Satu terdakwa melindungi, atau malah membongkar, kawan-kawan sekorupsian. Sirkus yang tak lucu pun dimainkan.
Karenanya, kita mendapat sejumlah julukan yang memalukan dan memilukan. Misalnya Louis Kraar (1988) yang mengkhawatirkan Indonesia akan menjadi “bangsa terbelakang” dan “halaman belakang” (back yard) di kawasan Pacific Rims; ‘’Soft state’’ alias negara lembek, menurut Gunnar Myrdal. Lalu ‘’cleptocrasi’’ atau ‘’vampire state’’ (negara drakula). Sebuah majalah asing menyebut ‘’envelope culture’’ di Indonesia. Bahkan kita pun menerima ramalan atau predikat sebagai ‘’negara gagal’’ alias failed state (Jared Diamond, 2005; Foreign Policy, 2008).
Lalu, apakah kita harus ikut arus brain-drain kabur dari Indonesia; Apakah kita harus ‘uzlah dalam pengertian apatis dan mengalienasikan diri dari problema kebangsaan dan kemasyarakatan?
Tidak! Sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, kita harus menjadi bangsa yang ‘’ajaib’’. Seperti dikatakan Nabi Muhammad SAW, “Sungguh ajaib kaum muslimin. Jika ia beroleh nikmat, ia bersyukur. Kalaupun mendapat musibah, ia tetap bersyukur dan sabar.’’
Bukan berarti kita mati rasa, membiarkan semuanya easy going, pantarhei, qi xera xera. Sebab, bukankah Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu berusaha mengubahnya.
Walhasil, tampaknya kita harus mempertanyakan tradisi balap karung dan panjat pinang dalam tiap 17 Agustusan. Jangan-jangan, balap karung mencerminkan perjalanan bangsa Indonesia yang selalu saja kesrimpung. Maklum, nafsu untuk berlari besar, tapi tenaga mampat karena kedua kaki terbelenggu (karung). Ironisnya, belenggu itu kita pegangi sendiri kencang-kencang dengan kedua belah tangan.
Panjat pinang, selama ini dianggap sebagai ekspresi gotong royong. Tapi kalau kita simak betul, perlombaan ini juga mencerminkan sikap menindas (menginjak-injak) untuk melakukan mobilisasi vertikal dan meraih perolehan material. Jangan-jangan panjat pinang lebih mengekspresikan falsafah ‘’trickle down effect’’ atau ‘’crabs-trap’’ yang menghambat kemajuan bangsa itu.
Dalam bahasa Prof Hassan Hanafi, guru besar filsafat Universitas Kairo, Mesir: ‘’Indonesia memerlukan revolusi pemikiran. Minal ‘aqidah ilal tsaurah’’ (Gatra.com, 05-06-2001). Yakni, bagaimana iman pada Allah, pada penciptaan alam, pada penciptaan manusia, pada kenabian, dan pada alam akhirat, mampu men-drive kekuatan revolusi. Lebih dari sekadar sikap nrimo pada keterbelakangan dan kezaliman.
Sebagai modal awal, bagaimanapun juga kita harus tetap optimis. Optimis bahwa Bangsa Indonesia masih berpeluang untuk menjadi Bangsa modern, beradab, dan penuh curahan berkah dan rahmat Ilahi. ‘’Aku ini sebagaimana sangka hamba-Ku saja,’’ titah Allah dalam hadits qudsi. Kalau kita percaya Allah Maha Baik untuk memperbaiki Indonesia, insya Allah negeri ini akan bisa lebih baik.
Generasi yang sudah ‘’karatan’’ dimabuk dunia, biarlah berlalu. Seperti disebut Al Qur’an, setiap kaum atau bangsa punya umurnya sendiri (QS 7:34). Mereka akan menemui ajalnya secara sunatullah, atau bila kelakuannya sudah kelewatan Allah langsung ‘’turun tangan’’ memusnahkannya, digantikan oleh kaum yang lebih baik (QS 5:54). Seperti dialami kaum Nabi Nuh, Luth, Bangsa ‘Ad, dan Tsamud. ‘’Telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebatilan. Sungguh, kebatilan pasti musnah’’ (QS 17: 81).
Menurut Quraish Shihab, kehancuran satu masyarakat tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya. Bahkan boleh jadi mereka semua secara individual tetap hidup. Namun, kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat berubah total, digantikan oleh kekuasaan, pandangan, dan kebijakan yang berbeda dengan sebelumnya.
Dalam bahasa Fazlur Rahman (Major Themes of Al Quran, 1981), Tuhan lebih suka membersihkan lembaran-lembaran sejarah dan menciptakan suatu permulaan peradaban baru ketimbang menolerir suatu simbiosis antara yang dekaden dan yang tegap. Ini misalnya diungkapkan dalam QS 6:6, 33:27, 28:5, 7:128,137, 39:74, dan QS 44:28. (Pane Fakhri)
November 14th, 2008 at 8:34 pm
Salam Sukses Mulia buat Pak Jamil, saya termasuk pendeengar setia di radio trijaya fm surabaya, saya baru 2X dengarkan di radio tsb, saya sungguh terkesan dan sangat luar biasa. Yang saya tanyakan aq kepingin seperti kamu Pak Jamil, kOnsultan wisdom, PAk kalo boleh tau Pak Jamil dulunya seperti apa ??? sukses menurut Pak jamil itu apa? langkah kongkritnya seperti apa???? aq ingin seperti kamu Pak, ya hampir mendekati.sebelumnya thx, salam sukses mulia atau di email saya sugionoali@gmail.com/08170 3738 125