back to niriah

Book

Penyesatan Fakta

Tulisan ini untuk melengkapi tulisan “Vihara Seratus Ribu” agar tidak salah persepsi. Walau kita dianjurkan untuk berpikir positif namun kita harus tetap kritis dan hati-hati terhadap penyesatan fakta yang banyak terjadi di kehidupan saat ini.

Penyesatan fakta yaitu menyembunyikan sesuatu atau menjadikan sesuatu tidak tampak, dalam konteks pengaturan urusan masyarakat dan pemeliharaan kemaslahatan serta kepentingan mereka. Penyesatan fakta itu adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan urusan masyarakat sehingga hakikat suatu masalah bisa disembunyikan dan yang tampak adalah sesuatu yang lain. Penyesatan fakta itu dalam kehidupan sekarang ini menjadi fenomena keseharian, baik ditingkat internasional atau nasional.

Contoh Penyesatan Fakta

Di tingkat internasional contohnya, invasi AS ke Irak dan Afghanistan dikatakan sebagai pembebasan. Padahal hakikatnya adalah agresi dan penjajahan. Penggunaan kata terorisme juga tidak lebih dari sebuah penyesatan fakta. Terorisme digunakan untuk memberangus setiap negara atau individu yang melawan AS. Buktinya, teroris yang dimaksudkan sebenarnya oleh Bush adalah siapapun yang melawan AS. “Either with us or with terrorists,” ujar Bush.

Penyesatan itu kadang kala dilakukan dengan menyebut sesuatu dengan sebutan lain. Contohnya, utang disebut bantuan. Dengan perubahan sebutan itu sebenarnya telah menyembunyikan hakikat utang dan menanamkan di benak orang persepsi utang itu sebagai bantuan.

Dengan sebutan itu, utang luar negeri akhirnya dianggap sebagai kebaikan hati asing dan seakan tidak ada kewajiban mengembalikan apalagi disertai bunga. Dengan sebutan itu hakikat utang sebagai alat penjajahan untuk memerangkap dan menjerat negara pengutang jadi tidak tampak.

Dalam kasus mutakhir yaitu kenaikan harga Premium, Solar dan Minyak Tanah, jika kita amati banyak terjadi penyesatan fakta. Kenaikan harga itu tidak mau disebut kenaikan harga, tetapi disebut pengurangan subsidi BBM. Padahal hakikatnya adalah kenaikan harga BBM.

Juga dikatakan kenaikan itu untuk menyelamatkan APBN agar perekonomian nasional selamat. Padahal dalam APBN 2008 dinyatakan, APBN itu hanya 20 % dari PDB atau dengan kata lain hanya 20 % dari kue perekonomian nasional. Sementara dengan kenaikan harga BBM yang terkena dampak negatifnya adalah perekonomian nasional seluruhnya. Artinya untuk menyelamatkan yang 20 % itu, justru 80 % dari perekonomian nasional terkena dampak negatifnya.

Dikatakan, jika kalau subsidi BBM mendorong pemborosan. Faktanya, konsumsi BBM Indonesia berada di urutan 116 dari negara-negara di dunia. Singapura yang BBM-nya tidak disubsisi, justru berada di ranking 1 konsumsi BBM dunia.

Diantara alasan kenaikan harga BBM itu karena subsidi BBM hanya dinikmati oleh orang kaya yang diidentikkan dengan pemilik mobil pribadi. Padahal jumlah pemilik mobil mewah hanya < 5 % (< 10 juta). Faktanya, BBM jelas dipakai oleh semua orang termasuk seluruh orang miskin. Bukankah BBM itu juga dipakai oleh sopir bus, metromini, mikrolet, angkot, sopir truk pengangkut barang, nelayan, para penumpang angkutan umum (bus, metromini, mikrolet, angkot, dsb) yang mereka itu semuanya bukan pemilik mobil pribadi atau bukan orang kaya. Dengan kenaikan harga BBM, harga-harga barang naik, akibatnya dirasakan oleh semua orang termasuk orang yang tidak pernah naik kendaraan (kalau ada) karena barang-barang itu diangkut dan didistribusikan dengan kendaraan pengangkut yang menggunakan BBM.

Di sisi lain, subsidi yang jelas hanya dinikmati orang kaya tetap dipertahankan. Impor gandum, PPn-nya dibayar pemerintah, jelas subsidi itu lebih dinikmati pengusaha dan mereka adalah orang kaya (malah mungkin super kaya).

Lebih dari 600 triliun uang dikucurkan untuk rekapitulasi Bank. Yang paling banyak menikmati adalah para pemilik Bank itu dan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Malah mereka yang ngemplang dana rekap itu begitu mudah dimaafkan dan dianggap lunas. Jika kepada mereka “pemerintah” begitu dermawan, kenapa untuk subsidi BBM yang dinikmati masyarakat kebanyakan pemerintah terlihat begitu berat dan pelit?

Jadi kita harus tetap hati-hati dan waspada terhadap suatu informasi yang kita terima.  Kita harus tetap berpikir jernih, obyektif, kritis dan tidak mudah terjebak.

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | June 29, 2008

4 Responses to “Penyesatan Fakta”

  1. Betul mas saya setuju, terkadang kita hanya pintar memainkan kata-kata. Yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa di salahkan.

  2. mas rosyie Says:

    Biar tidak gampang tersesat, maka ayo kita rajin menambah wawasan. Investasi waktu, tenaga, biaya untuk ngangsu kawruh alias menimba ilmu. Al hasil kita orang yang tenang, tidak gampang kaget, heran apalagi tersesat. Trims Mas Jamil. Meski jago saya Jerman tidak juara tetapi ada obat dari inspirasi Mas.

  3. Soleh LAZ Batam Says:

    Memang betul juga pak…
    Namanya juga pembodohan untuk rakyat.Kita harus waspada itu.Kita do’akan yang ngebodohin kita supaya insyaf. Amiin.
    Salam dari saya Soleh LAZ MRB semoga bapak s& sekluarga tetap sehat dan bisa ke Batam lagi Amiin.

  4. Seharusnya, data seperti yang Mas Jamil sampaikan itu harus dipublikasikan kepada umum bukan hanya di milis ini saja beserta dilengkapi data2 lainnya yang mendukung.
    By the way, kapan Mas Jamil ke Surabaya, ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan Mas Jamil, jika Mas Jamil berkenan. Thanks

Leave a Reply