Oleh : Jamil Azzaini
Saya ingin semua kecerdasan yang ada pada diri saya selalu terasah. Baik Physical Quotient (PQ), Intelligence Quotient (IQ), Creativity Quotient (CQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Secara berkala saya mengasah semua kecerdasan itu. Beberapa waktu yang lalu saya berupaya mempertajam EQ karena saya merasa kecerdasan yang ini sudah mulai tumpul.
Apa yang saya lakukan? Mobil saya minta dibawa driver pulang terlebih dahulu. Saya naik angkutan umum di
Ada 11 penumpang termasuk saya di dalam angkot yang saya tumpangi.
“Mentang-mentang punya hp” komentar ibu yang memangku seorang bayi. “Iya kalau mau ngobrol di hp ntar saja kalau di rumah.” Ibu yang membawa belanjaan menimpali. “Sombong, hp baru kali” seorang wanita berbadan tambun tak mau kalah memberi komentar.
Sementara sang wanita yang ngobrol di hp terus asyik membicarakan bisnis. Dia tidak tahu kalau telah menjadi sumber pembicaraan di angkot itu. Pembicaraan bisnis dengan temannya benar-benar telah membuat ia lupa dengan kanan-kirinya.
Menurut hemat saya, apa yang dibicarakan oleh wanita itu melalui hp sebenarnya hal yang biasa dalam bisnis. Wanita itu tidak salah. Dia harus meyakinkan clientnya saat itu juga. Dia tidak mau mengecewakan clientnya dengan menunda jawaban atas pertanyaan yang diajukan melalui telepon itu. Dia benar-benar ingin memberikan kepuasan bagi pelangganya.
Ketika sang wanita mengatakan ”Bapak gak akan akan rugi dengan harga tujuh juta itu pak, kami akan membantu bapak selama enam bulan kedepan” maka semua penumpang di angkot itu (kecuali saya tentunya) berteriak lirih ”hu…tujuh juta nich ye…” Saya heran koq mereka bisa kompak mengatakan hal itu.
Begitu sang wanita penelpon sudah turun dari angkot, semua orang menghujat, memarahi, menghardik bahkan beberapa ada yang mengucapkan kata-kata kotor. Namun sang wanita penelpon tentu tidak mendengar karena semua itu dilakukan penumpang setelah ia turun dari angkot.
Hari itu, saya mendapat pelajaran yang berharga bahwa bila kita ingin melakukan sesuatu kegiatan harus memadukan dua kata BENAR dan TEPAT. Apa yang dilakukan wanita itu benar karena dia harus memuaskan pelangganya. Tapi caranya kurang tepat karena disampaikan di komunitas yang tidak memiliki hp dan tidak terbiasa dengan dunia bisnis modern.
Pelajaran lain, bila hanya menyebut angka tujuh juta saja telah membuat sebagian masyarakat kita sakit hati dan mengeluarkan kata-kata yang kotor. Bagaimana kalau mereka tahu bahwa untuk Pilkada pemerintah menghabiskan trilyunan rupiah. Beban bunga dari hutang Indonesia yang mencapai Rp 94 trilyun pada tahun ini. Dan lebih dari enam ratus trilyun rupiah dana pemerintah digasak para pelaku BLBI.
Atau jangan-jangan sebagian besar rakyat Indonesia sudah tahu akan hal itu dan melampiaskan kekesalannya mulai dari demo yang damai hingga kegiatan yang anarkis. Membakar mobil plat merah, membakar rumah pejabat negara dan kegiatan anarkis lainnya. Mereka lakukan semua itu, karena kesal, jengkel atas berbagai tingkah polah yang mereka lihat dan dengar oleh para pejabat.
Memang, para pejabat pemerintah dan para public figure harus hati-hati dengan cara mempertimbangkan BENAR dan TEPAT setiap kata dan tindakan yang hendak dilakukan. Semoga tulisan inipun BENAR dan TEPAT bagi Anda yang membacanya. Wallahu’alam.
July 25th, 2008 at 10:30 am
Wah kreatif juga mas jamil neh. Mungkin ini bisa di contoh deh buat kita semua belajar dari menempatkan diri kita paa tempat yang tidak biasa. Misal kita sebagai orang tua juga harus mengetahui gimana perkembangan dunia anak saat ini. Jangan hanya bisa marah saja tanpa mengetahui dunia perkembangan anak-anak. Mungkin pada wakil rakyat juga harus sering-sering menyamar sebagai masyarakat biasa, jadi mengerti kondisi bangsanya saat ini. Yah mas terimakasih atas pencerahannya. Terus mas nulis yah mas, soalnya setiap hari saya pasti menunggu tulisan mas jamil.
July 25th, 2008 at 4:48 pm
Selalu mendengar, selalu memahami. barangkali hal itu yang kita butuhkan untuk menjadi peka terhadap penderitaan orang lain.
July 31st, 2008 at 3:10 am
Assalamualaikum,
saya juga pernah dengar pembicaraan orang di kendaraan umum.
Pembicaraan yang saya dengar itu intinya sperti ini. Mereka membicarakan seseorang yang sudah naik bis antar kota, tiba-tiba turun karena ada teman lamanya di luar bis tersebut. Saat dia turun untuk menemui si teman lama, bisnya jalan meninggalkan dia. Beberapa waktu kemudian terdengar kabar bahwa bis yang dia tidak jadi tumpangi mengalami kecelakaan dan para penumpangnya meninggal dunia. Dia selamat karena turun untuk menemui teman lamanya.
Saya sendiri tidak kenal orang ini, saya hanya mendengar saja cerita tersebut.
semoga bermanfaat dan terima kasih sharing ceritnya
Pak, Salam Sukses Mulia
August 4th, 2008 at 3:46 pm
Membaca inspirasi Mas Jamil Benar dan Tepat jadi ingat juga rumus Aa Gym BAL.
Yakni dalam ukuran mendapat dan mendistribusikan informasi kita mestilah Benar Akurat dan Lengkap.
Semoga kita senantisa berusaha menempatkan diri dg Benar dan Tepat dan hasilnya akurat, Insya Allah
August 21st, 2008 at 10:35 am
subhanallah….
keika membaca beberapa artikel Pa jamil ini membuat saya selalu bersemangat…….dan selalu menjadi salah satu inspirasi saya
September 3rd, 2008 at 2:02 pm
Menarik dan inspriartif, smoga kita bisa melaksanakannya
Saya telat mbacanya.
December 19th, 2008 at 11:26 am
subhanallah… pak jamil benar2 sudah merubah pola pikir saya dan saya pikir saya sudah sangat tepat membuka stusnya pak Jamil.