back to niriah

Book

Fenomena Golput

Pilkada di berbagai tempat menunjukkan angka golput yang tinggi. Pada Pilkada Jawa Tengah, angka golput mencapai lebih dari 40%. Golput di Pilkada Jatim pada Rabu 23 Juli secara keseluruhan sebesar 39.2%, padahal tidak ada pasangan yang meraih lebih dari 30%, paling tinggi 25.51%. Ini berarti pemenang pilkada Jatim adalah Golput

Menyikapi angka golput yang tinggi ini berbagai pimpinan partai dan pejabat pemerintah memberikan komentar. Ketua MPR Hidayat Nurwahid; “Golput akan menjadi sangat kontraproduktif. Sebab pemilu menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar (detik.com, 24 Juli 2008)

Megawati mengatakan; “Orang golput tidak boleh menjadi WNI.” Ketua KPU Abdul Hafiz juga pernah mengatakan : “golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik” (detik.com, 17 Juli 2008). Semua orang boleh berkomentar, saya dan Anda juga boleh berkomentar.

Komentar Cerdas; “seharusnya para elit politik, pemimpin partai dan pejabat mawas diri bahwa ternyata kepercayaan masyarakat kepada mereka semakin menurun”

Apa komentar Anda?

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | July 25, 2008

19 Responses to “Fenomena Golput”

  1. Terkadang kita sudah terlalu bosan dengan janji-janji partai.

  2. Mungkin masyarakat kita masih menilai partai atau kandidat pemimpin yang ada sebagai ‘GOLHIT’= Golongan Hitam. daripada milih ‘golhit’ mendingan milih ‘golput’.

  3. Jafar Abu Tama Says:

    Ibarat mobil… dari dulu yg dipikirin hanya bagaimana mengganti sopir, sopir, dan sopir. Biaya yg sangat buesar tsb hanya untuk mencari sopir…sopir… dan sopir lagi…
    Padahal mobilnya sudah butut dan buanyak kerusakannya… mana mungkin bisa lari kuencang mengalahkan Alonso…??? Nggak bisa.. kan??!!! Mobil tsb masih dgn merk yg lama dg sistem yg usang dan rusak yaitu Neo Liberalisme dan Sekulerisme…

    Maka yang saya pilih adalah sopir dan mobil baru… yaitu sopir yg ta’at kepada Allahu Swt dan mobilnya adalah mobil yang memakai system yg canggih yaitu Syari’at Islam..

    Setuju ????

  4. Sebagian masyarakat yang Golput beranggapan bahwa walaupun mereka berpartisipasi dalam pesta demokrasi, tidak ada perubahan yang signifikan bagi dirinya yang notabenenya wong cilik dan hanya segilintir orang yang dapat menikmati “grant” dari pihak yang jadi.

  5. Golput adalah pilihan. Tidak memilih lebih buruk daripada tidak memilih. Ingat riset nasi yang ditauh di tabung?

  6. Saya golput dengan pilih-pilih dan sadar, untuk memilih pemimpin negara saya tidak golput, tapi untuk memilih anggota DPR maaf saya golput.

    Sebelum DPR memperbaiki diri, saya golput. Cara memperbaikinya adalah kurangi jumlah anggota DPR (mungkin cukup 10% - 25% dari sekarang) dan gajinya di naikkan (biar nggak mau disuap).

  7. Jelas dan tegas…akan Golput untuk Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPRD tingkat II dan DPRD tingkat I dan DPR RI…juga Golput untuk Pilpres…
    Kenapa ?.
    Ya, karena percuma aja memilih kalau yang dipilih tak punya integritas & dedikasi untuk mensejahterakan rakyat, dan setelah dipilih pun tak akan memperjuangkan kepentingan kita sebagai rakyat.
    Ngapain capek-capek datang ke TPS kalau ternyata cuma mereka yang segelintir itu yang menikmati adanya peningkatan kesejahteraan kehidupan.
    Enak aja, kita yang capek, kita yang ngasih suara, eh giliran seneng cuma mereka yang dapet senangnya.
    Kita dapet apa ?…kita cuma kebagian kenaikan harga barang-barang berlipat-lipat kali naiknya dan peningkatan biaya hidup doang…..
    Viva Golput !!!

  8. Nuzul Fuad Says:

    Semakin banyak golput akan semakin baik bila perlu golput 100%, sebab ini menunjukkan peluang dan preseden yang bagus buat Partai yang akan memperjuangkan syariah dan khilafah yang tidak melalui jalur Democrazy, semoga para golput tersebut dikarenakan sudah apatis dan tidak percaya lagi terhadap sistem Demokrasi yang dijalan kan negara ini, dan mereka merindukan tegaknya syariah dan khilafah.

    Nashrun minallahi wa fathun qariib.

  9. maiyesni kusiar Says:

    Tingginya angka golput merupakan indikasi sikap apatis masyarakat terhadap pesta demokrasi atau bahkan demokrasi itu sendiri. Menurut Syamsuddin Haris , secara umum ketidakhadiran sebagian masyarakat dalam memberikan suaranya dalam pemilu dan pilkada dapat dikategorikan atas dua kelompok. Pertama, karena faktor teknis seperti tidak terdaftar sebagai pemilih, salah coblos dan alasan-alasan lain yang bersumber pada kekacauan manajemen pemilihan.
    Kedua, karena faktor politik. Alasan Golput karena faktor politik ini bisa dikelompokkan lagi menjadi 3, yaitu:
    1. Kecewa atau tidak percaya terhadap partai politik (parpol), tidak terkecuali partai Islam, karena menganggap kinerja parpol buruk dan tidak memuaskan publik. Hal ini tercermin dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap wakil-wakil partai politik di DPR. Jajak pendapat Kompas (10/3/2008) menggambarkan 68,5 % dari responden menganggap kinerja DPR buruk ; 84% mengatakan DPR tidak serius awasi kerja pemerintah, 52,5 % UU produk DPR tidak memihak kepada rakyat. Berkaitan dengan partai Islam, Lembaga Survey Indonesia (oktober 2007) menggambarkan dukungan terhadap dua partai yang dikenal sebagai partai Islam PKS dan PPP cendrung stagnan kalau bukan dikatakan menurun. LSI juga menilai PKS dan PPP justru semakin sekuler.

    Hal ini karena citra buruk parpol begitu nyata di mata publik, antara lain: Pertama, parpol sangat pragmatis sebagai akibat parpol lebih berorientasi pada kekuasaan. Seiring era Pilkada, peran parpol yang asal mencari menang kian terlihat. Koalisi antarparpol yang berseberangan ideologi atau beradu kepentingan di tingkat pusat, pudar di daerah, menjadi kendaraan politik untuk memenangkan calon yang dimajukan. Kedua, partai-partai yang ada gagal menunjukkan keberpihakan secara konsisten terhadap kepentingan dan nasib rakyat. Janji-janji muluk yang dilontarkan semasa kampanye, ternyata tinggallah janji. Usai Pemilu partai cenderung meninggalkan konstituennya dan menyibukkan diri dengan kepentingan partai ketimbang kepentingan masyarakat. Ketiga, praktik money politics, keberadaan partai sering hanya dijadikan sebagai kendaraan untuk mencari sumber kekayaan oleh para kadernya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aroma uang selalu menyertai proses-proses politik dan jabatan yang selama ini terjadi.
    Dengan ketiga citra diatas, menyebabkan parpol bukan menjadi pilihan utama penyaluran aspirasi publik. Jajak pendapat Kompas juga menyebutkan, dalam fungsinya sebagai tempat menyalurkan aspirasi sosial politik, kiprah parpol yang ada diakui paling rendah (11,3%), dibandingkan dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) (16,7%), lembaga keagamaan (22, 7%), maupun media massa (39%).

    2.Tidak percaya terhadap sistem kehidupan yang sedang berlaku (alasan ideologis). Masyarakat kelompok ini menganggap penyebab berbagai kebobrokan dan kehancuran disebabkan sistem yang rusak yang berjalan di atas rel Kapitalisme. Sistem ini telah menyuburkan praktek politik opportunistik yang hanya mengabdi pada kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya. Sementara rakyat hanya menjadi alat legalitas untuk meraih kekuasaan melalui pilkada dan pemilu. Sehingga dianggap hanyalah harapan hampa bagi perbaikan jika yang terjadi hanya perubahan personil pemimpin (melalui pemilu) tanpa disertai perubahan sistem. Ada 2 kecenderungan arus pilihan, ada yang menginginkan Sosialisme sebagai penggantinya, dan sebagian masyarakat lain menghendaki Sistem Islam dengan memahami bahwa perubahan menuju perbaikan hanya mungkin dilakukan jika Syari’at Islam dijadikan landasannya. Ditengah hasil survey menurunnya dukungan dan kepercayaan terhadap parpol, ada yang menarik dari hasil beberapa survey yang menunjukkan dukungan terhadap syariah Islam meningkat. Survey Roy Morgan Research yang terbaru (Juni 2008) mengatakan : 52 % rakyat Indonesia menuntut Penerapan Syariah Islam. Hal ini sejalan dengan hasil survey yang dilakukan oleh lembaga lainnya sebelumnya. Hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah tahun 2001 dan 2002. Hasil survei menunjukkan: sebanyak 67% (2002) responden berpendapat bahwa pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam adalah yang terbaik bagi Indonesia. Padahal survei sebelumnya (2001) hanya 57,8% responden yang setuju dengan pendapat demikian. Berarti peningkatannya cukup signifikan, yakni sekitar 10%.

  10. Saya sih pribadi ga mau golput, soale satu2nya hak saya sbg warganegara yg bisa terpenuhi cuma nyoblos pemilu doank..

    Tapi waktu pemilihan gubernur DKI kemarin itu,meski saya berKTP dan KK lengkap tp nama saya dan keluarga ga terdaftar jd orang yg berhak nyoblos. Kata pak RT dia dpt data itu dari kelurahan, sementara dia sendiri males updating data warganya.

    Gimana bisa saya yg lahir dan sampai sekarang ada di Jakarta ga ada datanya di kelurahan? Lha saya kan dpt KTP dari kelurahan? Semua dokumen kependudukan saya diurus resmi di Jakarta. Gimana bisa data saya ga ada?!

    Emang dasar pak RT dan kelurahan MALES nge-data warganya.

    SEJAK ITULAH SAMPAI SEKARANG SAYA MEMUTUSKAN GOLPUT!!

  11. Saya sudah Golput sejak tahun 1977, karena selama ini tidak pernah menemukan partai yang pas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. Tahun 2004 untuk Pilpres saya mencoba memilih, tapi hasilnya kok begini saja, selanjutnya setiap ada Pilkada dan Pilgub saya nongol di TPS pun tidak karena sudah males, buktinya setelah mereka jadi Walikota dan Gubernur, mana janji2 yang dulu diucapkan.

  12. Maka dari itu mas, mari kita bikin partai baru dengan “taste” yang beda dari yang ada sekarang, yang benar2 terdiri dari orang-orang bersih jasmani dan rohani dengan mengacu pada cara kepemimpinan rasullullah dan para sahabat. Insya Allah , kita diberkati dan dimudahkan jalannya, amien…

  13. Hidup Golput!!!
    Ayo kita kampanyekan Golput agar pemimpin yang terpilih tidak besar kepala karena hanya segelintir rakyat yang memilih dia.

    Mari kita kampanyekan Golput !!
    Hidupp Golput

  14. GOLPUT = Golongan Pengecut

    Jadilah kelompok yang berani, berani untuk memilih, karena pilihan yang paling buruk adalah pilihan untuk tidak memilih. jika kita cinta negara dan bangsa ini, bersikaplah berani dan bertanggung jawab, jangan jadi pengecut yang hanya diam, pasif, dan sok benar dengan segala alasan pembenaranya.

    emangnya apa yang didapat dengan bersikap GOLPUT? apakah lahirnya seorang pemimpin idaman dari sikap GOLPUT?

    Coba renungkan ?
    dan jadilah seorang pemberani

    thanks

  15. Dhony,

    Golput itu bukan pengecut. Golput juga bagian dari pilihan hidup seseorang. Golput itu hak warganegara. Ketika tak ada yg sreg dihati utk dipilih, untuk apa menodai hati nurani dengan tetap maksa memilih.

    Jadi, yang pengecut itu anda, Bung Dhony!

  16. Golput adalah pilihan terbaik jika itu dilandasi kesadaran bahwa tidak ada pilihan yang dapat untuk dipilh.Orang yang demikian akan berusaha untuk menciptakan pilihan yang memang harus dan layak dipilih.Orang yang tetap memilih meskipun semuanya buruk bahkan bertentangan dg hukum syara’ adalah orang yang lemah dan malas.Jangan gantungkan kehidupan kita pada segelintir orang diparlemen yang membuat hukum2 kufur pesanan pengusaha baik lokal maupun asing sekedar untuk balas jasa atas dana kampenye yang mereka ’sumbangkan’.Sekaranglah waktunya kerja keras untuk mewujudkan perubahan, dg memberikan edukasi dan penyadaran politik kepada masyarakat sehingga mereka tidak jadi komoditi para politikus oportunis dalam meraih ambisi untuk berkuasa.Ingatlah, sejarah dunia membuktikan bahwa perubahan yang radikal(mendasar) tidak lahir dari parlemen tapi lahir dari umat/masyarakat yang memiliki kesadaran untuk berubah.Jangan karena ketidaksabaran kita menjalani proses, kita tergiur dg tawaran sepotong roti daripada sebongkah emas yang masih berlumuran lumpur hitam.

  17. yaelah..malah ribut ndiri..
    bener ko..
    golput itu pilihan..
    pernah saya dengar..orang golput itu karna uda ga pcy ma pemerintah..jadi orang males ah milih anggota legislatif / kepala daerah..
    tapi gimana mau negara jadi lebih baik kalo kita ga milih?kalo ternyata orang yg berkompeten (orang yg ternyata nantinya bisa membawa kebaikan di negara kita) ga kepilih karena kebanyakan golput gmn?
    jadi intinya kapan negara kita jadi lebih baik kalo bukan kita yg mulai..?

  18. Assalamu’alaikum wr wb

    kalo pada mau negeri ini jadi lebih baik… jangan golput donk… pilih yang menurut anda bisa memperbaiki.
    Gimana DPR mau jadi lebih baik seperti yang anda harapkan kalo anda enggan memilih orang-orang yang mampu memperbaikinya.

    kalo pernah kecewa dengan beberapa partai, toh sekarang banyak partai yang masih belum anda beri kesempatan untuk mencoba. Lalu kenapa anda tidak mencobanya memberi kesempatan??

    kalo Golput, berarti orang-orang DPR ga kan berubah. Ayo ikut ambil bagian, jangan ga peduli, trus nanti bisanya cuma menghujat. itu kan ga bertanggung jawab namanya..

    saya harap anda ga mau dinilai menjadi orang yang ga bertanggung jawab di mata Tuhan, ya kan??

    terima kasih..

    Wassalamu’alaikum wr wb

  19. As.Wr.Wb. saya sampaikan sedikit referensi golput, semoga bermanfaat buat anda. Wass

Leave a Reply