back to niriah

Book

Menunggu Kehadiran Keponakan

Setiap orang memiliki kenangan yang berbeda-beda atas sebuah peristiwa.  Di bulan Ramadhan 1429 H yang baru saja berlalu, sayapun memiliki kenangan yang mungkin berbeda dengan Anda semua.  Ada kenangan manis yang semakin menyempurnakan khasanah kehidupan saya.  Adapula kesedihan yang menimpa saya dan semakin menyadarkan betapa saya adalah seorang manusia yang jauh dari kesempurnaan.

Kenangan manis pertama di bulan suci itu adalah saya mendapingi adik kandung saya melahirkan bayi pertamanya di rumah orang tua saya di Lampung.  Sejak maghrib adik saya menahan sakit. Uniknya, dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. “Saya ingin merasakan perjuangan melahirkan seorang anak” kata adik saya.  Kamipun menunggu dengan penuh harap dan juga kekhawatiran. Penuh harap karena itu akan menambah jumlah keponakan saya.  Khawatir karena adik saya usianya sudah lebih dari 35 tahun dan ini adalah pengalaman pertamanya melahirkan  seorang bayi.

Tepat pukul 02.05 waktu lampung, bayi itu berhasil keluar dari perut ibunya.  Kami semua (orang tua, kakak/adik kandung dan ipar semuanya hadir) senang dan berteriak “alhamdulillah”.  Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sekitar 2 detik. Sang bayi tidak menangis.  Kita semua yang menyaksikan justeru yang menangis.

Bayi yang baru lahir itu dipukul-pukul oleh bidan yang menolong persalinan adik saya.  “Ayo nak nagis nak…, ayo nak nangis…, ayo nangis nak…” Ibu saya terduduk lunglai sambil memeluk adik saya yang telah kehabisan tenaga.  Bapak saya menangis berteriak keras.  Istri saya yang selalu duduk di sisinya sejak maghrib terus berucap “astagfirullah” berulang-ulang. Adik bungsu saya memeluk saya sambil sesungukkan menangis.

Sementara saya terus berulang-ulang berucap “hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikma nashir” sambil sesekali menghapus air mata yang mengalir.  Wajah duka dan kesedihan menghiasi kami semua.  Wajah ibu bidan yang semula tenangpun saya lihat mulai tegang, dia terus memukul-mukul bayi diselingi perlakuan lain.

Setelah kurang lebih 8 menit, sang bayi baru memamerkan suaranya “oek…oek..oek…” dan seketika itu semua yang hadir berucap alhamdulillah.  Semua menangis haru…semua tersenyum…dan sayapun bersujud syukur disertai linangan air mata bahagia yang terus mengalir membasahi tempat saya bersujud.  Malam itu, adalah malam ternikmat di awal bulan Ramadhan bagi saya, tepatnya 3 September 2008

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | October 8, 2008

7 Responses to “Menunggu Kehadiran Keponakan”

  1. Alhamdulillah setelah menunggu dua pekan ada inspirasi baru. Terima kasih Mas. Semoga kita menjadi manusia yang terlahir menangis namun sekeliling kita tertawa bahagia penuh syukur, serta kelak kita meninggal sekeliling kita menangis namun kita bisa tersenyum bahagia karena kita telah SUKSESMULIA dunia akhiarat, ini pilihan kita semua. Semoga

  2. Alhamdulillah, Selamat Pak Jamil kami ucapkan, atas kelahiran keponakannya, moga kelak menjadi anak yang berbakti pada Agama, Orang tua, Sesama & Bangsa Amin.

  3. Selamat ya Pak Jamil ..

  4. maiyesni kusiar Says:

    Selamat ya Ustd atas kelahiran keponakannya, smoga menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa.Btw, bayinya laki2 apa perempuan ya

  5. Buat anaknya, selamat datang di dunia fana
    Buat ibunya, selamat beristirahat
    Buat bapaknya, selamat berpuasa …..

    Jay de Terrorist

  6. Barokallah Ustadz,,,
    Tepat pada hari yang sama, saya dan mas rohmat melepas ayahanda kami kembali pada-Nya saat sakaratul maut… Kami ikhlas setelah menyaksikan gerakan bibir beliau menirukan kalimat terberat timbangannya di muka bumi ini.

    Tak ada linangan air mata kecewa. Yang ada genangan air mata keikhlasan,,,

  7. Subhanalloh, Walhamdulillah, Walaailaaha illalloh, Wallohuakbar

Leave a Reply