Di tengah tengah kesibukanku road show ke berbagai kota, aku duduk sendiri di dalam kamar hotel. Tiba-tiba butiran bening menetes di pipi. Aku rindu istriku. Aku rindu anakku. Merekalah penyemangat hidupku. Merekalah pelipur laraku. Mereka penenang jiwaku. Mereka adalah perhiasan hidupku
Aku ingin renang bareng dengan anakku. Aku ingin yuapin anakku. Aku ingin bermain bantal dengan anakku. Aku ingin bermain kartu dengan anaku. Aku ingin bermain badminton dengan anakku. Aku ingin mengendong dan memeluk anakku. Aku ingin mendengar celoteh anakku. Aku ingin mendengar cerita anakku. Aku ingin memandikan anakku sebelum dia berangkat sekolah. Aku ingin ngobrol dengan anakku. Aku ingin melihat mereka tertidur dengan sungging senyum di bibirnya. Aku ingin jalan-jalan dengan anakku. Oh betapa rindunya aku… rindu yang semakin membuncah
Ya Allah…Apakah kesibukan ini untuk mereka? atau kesibukan ini sekedar hanya memuaskan egoku semata?
Maafkan aku wahai istri & anakku, I miss you so much…
November 7th, 2008 at 12:25 pm
Ass. wr.wb..Pak Jamil
awal bulan ini saya training ke luar kota dan ada sesi ice breaking di hari pertama. Ada pertanyaan “apakah anda menghabiskan minimal satu jam sehari bersama keluarga? lebih dulu mana dengan pasangan atau anak?”
Dan rata-rata jawaban untuk laki-laki:mereka akan mejawab duluan dengan anak baru istri
untuk perempuan:duluan dengan suami baru anak.
Membaca cerita Bapak…ternyata benar jawaban rata-rata itu.
Mengenai pilihan kerja atau keluarga, ada teman saya yang lain mengatakan selalu harus memilih antara keluarga atau kerjaan. Tidak bisa mendapatkan kedua-duanya. Jika akhirnya memutuskan untuk keluarga maka kerjapun akan sesuai kebutuhan saja tidak akan maksimal demikian sebaliknya. Jadi jika Bapak masih bertanya apakah kesibukan ini untuk keluarga..maka Pak Jamil sudah tau sendiri jawaban sebenarnya.
Saya sendiri, masih belum mengakui pendapat teman saya itu…saya masih berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik bagi keluarga dan pekerjaan…(namun akhir-akhir ini sepertinya jawabannya lebih condong ke pekerjaan…hiks..hiks…bukan ibu yang baik)
November 7th, 2008 at 1:25 pm
Mas Jamil,
Memang sesungguhnya anak dan istri itu cobaan dari Allah. Cobaan itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan atau menyengsarakan. Kalau mendapat cobaan yang menyenangkan kita bersyukur tapi jika mendapat cobaan yang menyengsarakan kita harus bersabar.
Dan jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu.
November 7th, 2008 at 4:21 pm
Benar pak jamil.Hidup adalah pilihan.Tapi kadang kala ketika menentukan pilihan kita sering kurang jujur terhadap kebenaran bisikan hati nurani, sehingga kita berdalih agar tidak termasuk orang yang egois, pilihan yang kita pilih mengatasnamakan kepentingan orang lain. Padahal jauh didasar hati kita malu mengakui sebenarnya…ini terbukti ketika anak-anak atau istri butuh sedikit perhatian kita lebih takut mengecewakan klien karena datang tidak tepat waktu.Tetap semangat pak jamil, saya yakin anda bisa menjadi ayah, suami, sekaligus pemimpin umat yang ideal, yang bisa berlaku adil terhadap peran-peran yang diamanahkan Allah SWT. Subhanallah
November 7th, 2008 at 4:40 pm
Pak Jamil, Bukannya istri dan anak sering diajak ikut keluar kota kalau ada training kayak ke Gresik. saya kira itu adalah konsekuensi dan harga yang harus dibayar ketika pekerjaan kita yang menuntut untuk pergi dan meninggalkan keluarga. tetapi ketika ada waktu untuk keluarga kita manfaatkan betul walaupun hanya sebentar.
November 8th, 2008 at 10:05 pm
Alangkah bahagianya keluarga p’jamil, istri dan anak yang mempunyai p’jamil. Semoga kebahagiaan selalu tercurahkan kepada kel p’jamil. Saya jadi merasa malu dan merasa bersalah sebagai ibu dan istri yg tugasnya sering keluar kota, krn waktu kebersamaan tentu saja sgt terbatas. Saya pernah mengajukan 3 kali kepada suami tuk berhenti bekerja, tapi suami saya tidak mengijinkan. Sedangkan prinsip saya kalau bekerja itu tidak sekedar bekerja tapi saya lakukan secara all out dg kesungguhan dengan produk yg jelas dan bermanfaat. Apalagi setelah mendengar bintang terangnya P’Jamil, saya semakin terpacu untuk mengikuti langkah p;jamil dalam mencapai sukses mulia. Pertanyaan saya, apakah saya sebagai wanita pantas untuk meraih sukses mulia? apakah bukan merupakan ambisius seorang wanita seperti saya ini.
Nuwun responnya
November 9th, 2008 at 7:23 am
Assalamu’alaikum wr.wb
Mas dan Mbak semuanya, saya memang sering mengajak secara bergiliran istri dan anak saya ketika saya memberikan training di berbagai daerah. Namun kadang karena jadwal sekolah dan juga kesibukan bisnis istri saya tidak semua tempat bisa saya ajak.
Siapapun kita pasti bisa menjadi manusia yang SUKSESMULIA, bagaimana resepnya, Baca buku Kubik Leadership (he..he..he..)
Salam SUKSESMULIA
Jamil Azzaini
November 10th, 2008 at 12:00 am
Pak Jamil,
Apa yang sudah saya alami adalah anak kami pada usianya yang baru 6 tahun sudah bisa menolak untuk diajak pergi bersama orang-tuanya, sudah bisa menilai untung ruginya jika ia ikut ke suatu tempat bersama orang tuanya, dengan menanyakan terlebih dulu kemana tujuannya dan untuk apa. Saya hanya terkejut dan cukup waspada menyadari sebegitu cepatnyakah anak kami merasa mandiri dan tidak terlalu membutuhkan kami orang tuanya untuk meluangkan waktu berekreasi bersama, dibanding saya waktu kecil hingga SMA yang selalu mengintili kemana pun kedua orang tua saya pergi. Jadi, ayo kita puaskan waktu yang masih ada untuk mengoptimalkan kualitas hubungan kita dengan orang2 tercinta di rumah. Sukses dan mulia menurut saya juga harus tercipta di lingkungan terdekat kita yaitu rumah tangga, sehingga setiap Pak Jamil memberi training sukses mulia 1 point di luar, maka di rumah harus mentransfer 2 point terutama aspek mulianya dan untuk mencairkan energi negatif Pak Jamil, yaitu kepuasan ego. Hehehe…ini tipikal suara seorang ibu, Pak.
November 21st, 2008 at 8:07 am
wah pelajaran bagi saya kalo sudah berkeluarga nanti.
Sukses terus Pak Jamil
November 21st, 2008 at 8:29 am
Ass wr wb
Salam kenal dari Doha-qatar,
Bagus sekali blognya pak Jamil ini, saya tahunya dari info temen2 di qatar ini,kapan ada rencana training/pelatihan or apalah namanya untuk temen2 yg di qatar pak.
Alhamdulillah saya dah hampir setahun disini, sementara saya sendirian disini, anak & istri masih di jkt, saya juga sering rindu sekali dengan istri & anak saya pak Jamil, anak saya no 2, cewek masih smp, namanya sama dengan putri pak jamil, anak saya namanya Nadira Fitria.
Salam sukses selalu buat pak jamil .
wass.wr.wb