back to niriah

Book

IRI-Lah

Selama ini saya sering mendengar seruan buanglah penyakit hati, salah satunya adalah iri.  Namun pada acara halal bihalal TDA (Tangan Diatas) pada Sabtu, 08 Nopember 2008 di Darut Tauhid Bandung para undangan yang hadir malah diserukan untuk iri.  Sang penyeru bernama mas Amri yang memiliki pekerjaan bersepeda dan hobi konsultan itu. “Kalau Anda ingin jadi pengusaha beneran, Anda harus iri”

Kepada siapa kita boleh iri? hanya kepada dua golongan saja.  Pertama, orang kaya yang dermawan.  Kedua, orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.  Dengan penjelasan itu pikiran sayapun jadi menerawang kepada sahabat-sahabat saya yang tergolong menjadi dua kelompok tersebut.

Orang yang kaya dermawan.  Saya langsung teringat sahabat saya Happy Trenggono. Saat ini mas Happy sedang giat investasi di bidang alat-alat berat dan perkebunan.  Pekan lalu saya baru bertemu mas Happy, dia baru saja menandatangani investasi di bidang perkebunan senilai Rp 2 trilyun.  Melalui PT Balimuda ia mengembangkan bisnisnya di luar pulau Jawa.

Walau dia sibuk bisnis, ia tak melupakan nasib orang-orang yang kurang beruntung dari aspek ekonomi.  Setiap pekan rumahnya dihadiri ratusan orang-orang miskin untuk mendapat jatah makanan.  Bahkan ketika menjelang lebaran lalu, dia menyewa helikopter untuk pulang ke kampung karena tidak ingin terlambat membagikan bantuan kepada ribuan orang di kampungnya.  Sensasi? tidak.  Karena dia lakukan itu bukan karena ingin publisitas. Dia lakukan karena memang ingin membantu.  Wah, betapa iri-nya saya.

Saya juga teringat sahabat saya, Iskandar Zulkarnain.  Kaya raya, bisnisnya tersebar di mancanegera. Menjadi komisaris di berbagai perusahaan di Indonesia. Namun dia rela membagi-bagi nasi bungkus sendiri di daerah konflik Maluku, Buton, Ternate, Poso, Aceh, Yogyakarya.  Diapun bersedia tidur di tenda-tenda bersama para pengungsi.  Wah, betapa iri-nya saya.

Saya juga ingat sahabat saya yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.  Mas Rohim, bukanlah dosen, bukan akademisi, bukan pakar dan bukan juga guru besar.  Ilmunya tidak seberapa dibandingkan mereka.  Namun ilmu sedikit yang ia miliki rela dibagi cuma-cuma kepada tiga ribu lebih anak jalanan di daerah Depok.  Ia membuat program bernama Master (Masjid Terminal).  Area masjid di terminal Depok dia jadikan tempat belajar gratis para anak jalanan. Ia angkat harkat dan martabat anak-anak jalanan agar kelak tidak lagi hidup di jalanan. Hasilnya, ribuan anak telah diberdayakan.  Wah, betapa irinya saya.

Saya juga punya sahabat ahli tanaman organik.  Bahkan dia pernah berguru ke Jepang untuk mendalami ilmunya. Syamsudin namanya.  Putra Brebes ini kini sedang kuliah S-3 di IPB Bogor.  Ilmu yang ia miliki dibagikan cuma-cuma kepada ribuan petani di berbagai daerah.  Ia membentuk LPS (Lembaga Pertanian Sehat).  Ribuan petani meningkat taraf kesejahteraannya, karena dengan tanaman organik yang dikembangkan para petani meningkat penghasilannya.  Saya pernah bersama beliau mengunjungi desa yang ia bina dan mencicipi makanan organik yang dihidangkan petani. Para petani sangat hormat dan sangat dekat dengan mas Syamsudin.  Wah, betapa iri-nya saya.

Ya, saya memang harus iri kepada mereka.  Begitupun Anda, Iri-lah.

Salam SUKSESMULIA

Jamil Azzaini (JA)

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | November 9, 2008

18 Responses to “IRI-Lah”

  1. Wah …. luar biasa tulisannya, saya mendapat info tulisan ini dari mas. agah …….

    Mari sama-sama kita sebarkan, salah satu cita-cita TDA-TAngan Diatas yaitu untuk memberi tidak harus kaya dulu, sebab dengan memberi sudah menunjukkan bahwa itu sebuah kekayaan yang tak terhingga. Foto-foto acara ada di http://www.masamri.multiply.com

  2. Saya ikut acara HBH TDA 2008, dan pertama kali mengenal pak Jamil. Dan saya sungguh iri dengan bapak. Dengan segala keterbatasan waktu kecil, dengan semangat juang, dengan semua prestasi terbaik pak Jamil di dunia ini.
    Semoga saya bisa bersyukur dengan kondisi saya sekarang ini.
    Salam suksesmulia

    Dody

  3. Saya juga iri sama Pak Jamil, Pak Roni - manetvisio.com, Pak Iim - dokterkomputer.com, dan orang muda sukses lain yang umurya ga jauh beda dari saya tetapi “Valensi”nya jauuuh lebih berbobot dari saya.

    Terimakasih buku “Kubik Leadership”nya pak Jamil, sangat berguna bagi saya. Semoga pak Jamil tambah sukses dan tercapai semua tujuanya.

    Salaam,

    Muslih

  4. Saya juga iri sama Pak Jamil. Kemarin sudah berbaik hati membagikan ilmunya untuk isi kekosongan waktu di HBH TDA.

    Selain itu saya iri karena Pak Jamil sudah bisa membuat sekolah untuk orang miskin, pak jamil bisa jadi pembicara, jadi dosen dll.

    Saya juga iri sama Pak Jamil, karena Pak Jamil sangat mesra sekali dengan istrinya. Wah bikin iri luar dalem nih…

    Sukses buat Pak Jamil

  5. Terima kasih ulasannya. Saya juga iri dengan mereka2 ini. Sekaligus menghujamkan cita-cita menjadi seperti mereka “orang kaya yg dermawan & berilmu dan mengamalkannya”.
    *Hermawan | akses-research.com

  6. Untuk mencapai hasil seperti yang Diirikan, Iri (positif) sebagai sebuah sikap perlu diaktualisasikan. Tiru adalah jenis aktualisasi yang memiliki ikatan ‘emosional’ dengan Iri.
    Iri (sikap) + Tiru (tindakan) => Yang Diirikan
    Gimana mas? :)

    Salam

  7. nice pak Jamil.
    selama ini saya mendengar nama Anda.
    tapi kmarin di DT, meski tidak full.
    saya iri kepada Anda.

    salam..

  8. wah indah sekali Pak Jamil, kapan dan mulai darimana ya kita dapat berbagi seperti mereka? yup mulai dari sekarang dan dari scope yang paling kecil.

  9. Terima kasih atas artikelnya, sangat bermanfaat

  10. Wah, saya iri buanget sama Pak Jamil. Bisa menginspirasi banyak orang untuk membuat hidup lebih bermakana.

    Keep spirit Pak !!!!

  11. Makasi Pak, untuk pertama kalinya mendengar & melihat secara langsung Pak Jamil. “Tausyiah”nya membuat saya terharu & makin merasa iri blm bisa mewujudkan Proposal Hidup.

    Iri melihat kemuliaan berbagi dgn ribuan anak yatim, iri dengan segala kebaikannya. Rasanya ingin bisa lebih baik setiap harinya.

    Untuk pertama kali dengar istilah Proposal Hidup, boleh pinjem formatnya Pak? :), diemail juga boleh.. hehe.

    SuksesMulia tuk semua!

  12. […] berilmu yang mengamalkan ilmunya.  Keesokan harinya yaitu tanggal 9 Nopember 2008, kami membuka http://jamil.niriah.com/2008/11/09/iri-lah/, rupanya Bapak Jamil Azzaini yang pada saat itu ada dalam forum tersebut, dan beliau adalah seorang […]

  13. Ass w.w.
    Salam Sukses Mulia sekaligus salam kenal dari saya Abu Rosyid di Bantul Jogja.
    Kami jadi ingat kenalan saya di Banjaranegara dengan profesi tukang becak dan sederhana, tetapi mempunyai niat dan amalan yg mulia yaitu sedekah setiap hari jum’at. Seandainya hari jum’at tdk punya uang utk sedekah maka sebelum jum’atan dia akan kayuh becaknya gratis utk penumpang hari itu, siapapun penumpangnya……
    Saya juga iri dgn kenalan saya tsb, juga orang-orang yg Pak Jamil ceritakan serta yg pak Amri dari TDA Bandung.
    Wassalam w.w

    Salam Sukses Mulia
    aburosyid2008@yahoo.co.id

  14. Dengan menceritakan orang-orang diatas ini aja saya uda iri sama mas jamil.

    tks

  15. It’s a great story which opens my eyes and mind.Thank you:)
    Hopefully, bisa jadi yang kaya yg dermawan dan orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. AMIN. :)

  16. Walau saya gak datang ke acara halal bihalal TDA, melalui tulisan ini setidaknya saya turut mengambil ilmu yang luar biasa…smoga saya tidak hanya memelihara sikap iri tsb tetapi juga dapat mengobati rasa iri saya dg mewujudkan hal yg sama….ya saya harus bisa berbagi…!!! karena sebaik-baiknya orang yg paling bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang…

  17. hidup mulai
    boleh nih pak di share ilmu
    sebab saya juga punya ke inginan kearah itu..
    sekarang lagi proses..
    mungkin dengan ilmu yg bapak share ke saya bisa lebih mudah
    dancepat melewati nya

  18. Iri yang sangat sehat, dan patut dikembangkan…semoga iri ini menjadi semangat untuk menjadi lebih baik lagi, dan memberi lebih banyak lagi.

Leave a Reply