Saya mengenal seorang yang luar biasa dalam menjalani hidup. Di awal tahun 70 hingga akhir tahun 90 ia menjalani hidup berkubang dengan kemisikinan. Ia menjadi satu dari 10 orang termiskin di kampungnya. Atap rumahnya dari ilalang. Dindingnya dari bambu. Rumahnya berdiri sendiri di rimbunnya hutan Lampung.
Saya teringat tatkala ia dihina dengan kata-kata kotor ketika meminjam uang untuk biaya sekolah anaknya. Saya teringat ketika ia dikejar-kejar orang untuk menagih hutang yang sudah lama jatuh tempo. Saya teringat tatkala ia harus pindah ladang garapan karena ladang yang semula belantara hutan ada yang mengakui itu miliknya. Untuk menjaga stamina tubuhnya ia dan keluarganya cukup memakan nasi jagung dan tiwul (makanan dari ubi kayu).
Berbagai profesi pekerjaan pernah dijalaninya; petani, jualan tape, buruh tani, pengantar surat, kuli panggul, office boy di PTP X, dan menjaga ladang milik orang-orang kaya. Berbagai profesi itu ia jalani walau hasilnya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hanya satu profesi yang tidak pernah berganti hingga hari ini yaitu guru mengaji.
Selasa, 11 November 2008 saya menghadiri undangannya di Lampung. Saya langsung terbang dari Banjarmasin karena sehari sebelumnya saya memberikan seminar di Bank Mandiri di kota itu. Ya, orang yang dulu menjadi icon miskin di kampungnya kini akan menunaikan ibadah haji. Di kampungnya hingga hari ini belum ada 5 orang yang mampu menunaikan ibadah haji.
Ia membuat tarub (semacam tenda besar) untuk menerima tamu-tamunya. Ia mengundang 400 orang untuk mendoakan keberangkatan haji. Namun ternyata yang hadir mencapai 800 orang. Dua kali lipat dari yang diundang. Panitia panik, apakah makanan yang disiapkan cukup?. Subhanallah, ternyata makanan yang disiapkan cukup untuk para undangan.
Undangan bukan hanya dari kampung itu tetapi juga dari berbagai kampung tetangga. Ada yang bersepeda, menggunakan motor, mobil pribadi bahkan ada yang menggunakan mobil bak terbuka. Butiran air bening membasahi pipi tatkala melihat rombongan datang berduyun-duyun dengan menggunakan mobil bak terbuka dan berpayung plastik lebar karena ketika itu hujan rintik-rintik.
Saya terharu dengan antusias dan dukungan orang-orang kampung itu. Ketika diberi kesempatan untuk memberikan kata sambutan saya hanya bisa berkata singkat; “terima kasih atas dukungan, doa dan kehadiran bapak dan ibu pada hari ini. Maafkan bila tempat yang telah disediakan tidak mencukupi sehingga harus berdiri dan masuk ke rumah orang lain.
Selain itu, mohon maafkan atas semua kesalahan, kekurangan yang pernah ada. Izinkanlah kedua orang tua kami, Bapak Ahmad Zaini dan Ibu Wasiyem menunaikan ibadah haji dengan tenang. Kami tahu orang tua kami orang yang hebat dan luar biasa menurut kami. Tapi mereka bukan malaikat, mereka pernah melukai hati bapak dan ibu. Mereka pernah tak sanggup membayar hutang sesuai janji. Mereka pernah berbohong kepada guru agar anaknya bisa tetap sekolah. Mereka pernah berbohong kepada bapak dan ibu hanya sekedar agar anaknya tidak minder karena kemisikinannya.
Hari ini, kami mohon bapak dan ibu mengikhlaskan kepergian orang tua saya untuk menunaikan ibadah haji. Biarkanlah mereka menjadi tamu Allah dengan pikiran dan hati yang bersih. Biarkanlah mereka menjadi tamu Allah tanpa membawa luka hati bapak dan ibu sekalian. Maafkanlah mereka…maafkanlah mereka…maafkanlah mereka…Biarkanlah mereka menjadi tamu Allah, biarkanlah mereka menjadi kekasih Allah
Selamat jalan bapak dan ibuku yang hebat.
November 13th, 2008 at 12:10 pm
selamat buat orang tua mas jamil.Semoga menjadi haji yang mabrur ya…
November 13th, 2008 at 6:04 pm
Assalamualaikum…Pak Jamil..
Pertama yang saya ingin sampaikan adalah ke’luarbiasa’an yang dimiliki oleh Pak Jamil…, Saya mengenal Bapak dari tulisan Bapak yang membuat diri ‘melambung’ kembali turun untuk terus berserah kepada-Nya. Namun saya membaca tulisan ini, semakin ‘luar biasa’ lebih mengenal bapak…ternyata sebuah ke’luarbiasa’an terlahir dari ke’luar biasa’an juga…, Semoga Ibadah Haji yang dilakukan Bapak dan Ibu Pak Jamil dapat diterima Allah, demikian pula dengan Bapak…Amiin. Salam SOBAT (semua Orang Bisa hebAT) !!
November 13th, 2008 at 8:41 pm
Semoga orang tua Pak Jamil menjadi haji yang mabrur sesuai amal kebaikan Beliau. Aamiin…..
November 13th, 2008 at 11:18 pm
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan ibadah haji bagi Bapak Ahmad Zaini dan Ibu Wasiyem, dan semoga memperoleh haji yang mabrur. Amin.
Subhanallah! Begitu banyak sanak saudara, kerabat, teman dan keluarga yang berdoa, bermunajat dan memohon kepada Sang Khalik demi kesempurnaan ibadah haji beliau berdua. Makin nyatalah betapa mulia hati dan akhlak orang tua Pak jamil, sejak saya mendengar ilustrasi kisah masa2 sengsara beliau pada training Kubik yang saya ikuti, dalam merawat, mengasuh, membesarkan serta terus berusaha membiayai sekolah anak2-nya, dengan kondisi menyandang predikat salah satu penduduk termiskin.
Apakah Pak Jamil turut serta mengantar beliau berdua? Saya harap demikian. Karena ini adalah salah satu kesempatan bagi kita untuk ‘mencicil’ balas jasa dan bakti anak terhadap orang tua. Mendampingi, membimbing, membantu semua kebutuhan beliau selama beribadah haji adalah hal-hal yang sangat sulit untuk dicarikan tandingannya dari sisi menyenangkan dan membahagiakan orang tua. Di tanah suci pula !!
Selamat jalan hati yang mulia! Selamat menjemput keberkahan dan kenikmatan beribadah! Selamat menjadi tamu kehormatan yang dinanti-nanti Allah SWT!
November 15th, 2008 at 10:40 am
Pak Jamil yg baik, terima kasih petuah yang sangat berguna bagi saya dan istri tentang propposal hidup di acara halal bihalal TDA. Sangat inspiratif, begitu mencerahkan. Salam - Asep Mulyana (http://asep1974.blogspot.com/2008/11/kekuatan-memberi-dalam-laskar-pelangi.html)
November 17th, 2008 at 5:43 am
Alhandulillah suatu doa dan usaha yg luar biasa, dan menambah keyakinan saya bahwa inti ibadah adalah ikhlas tanpa pamrih.
Semoga ini termasuk dalam proposal hidup saya
Terima kasih Pak Jamil, semoga ibadah haji ortu bisa lancar dan menjadi haji yg mabrur
wassalam
November 17th, 2008 at 9:07 am
Tujuan utama menunaikan ibadah haji adalah menjadi haji Mabrur, semoga orang tua Pak Jamil dapat meraihnya. Allahumma amin.
November 17th, 2008 at 12:29 pm
Semoga orang tua pak Jamil diberi yang terbaik.
seperti yagn diharapkan.. Amien.
ingin rasa-nya bisa seperti pak Jamil, bisa membuat
orangtua ‘tersenyum’..
btw, bisa share proposal hidup yg diceritakan di HBH Bdg
pak Jamil.
terima kasih
salam hormat
November 18th, 2008 at 6:20 am
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Saya membaca ini mau menangis karena saya menjadi iri dan terus merasa sedih saya ingin seperti pak Jamil yang bisa mengantarkan orang tuanya untuk naik haji. Saya juga punya cita-cita ingin mengantarkan orang tua saya bisa berangkat HAji. Do’akan saya agar trus bisa istiqomah dalam cita-cita untuk menjadi orangt yang bermanfa’at bagi orang lain
Saya Do’akan semoga orang tua kang Jamil menjadi Haji yang mabrur dan menjadi penyebab turunnya keberkahan di bumi nusantara ini Amien
salam kenal
ruslan jaelani
Bandung
November 18th, 2008 at 11:09 am
Alhamdulillah, ya Allah jadikanlah Bapak Ahmad Zaini dan Ibu Wasiyem haji yang Mabrur. Amin…
November 18th, 2008 at 4:42 pm
Subhanaallah, Alhamdullilah, kisah yg sangat inspiratif sekali..Semoga menjadi Haji yang Mabrur..Amiennn
November 20th, 2008 at 10:18 am
Selamat buat Pak Jamil yang mempunyai orang tua ulet dan tabah dalam menjalani hidup. Semoga kisah seperti ini memberikan pencerahan dan motivasi kepada masyarakat dengan ekonomi pas-pasan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Setiap ada usaha Insya Allah ada hasil yang seimbang. Sungguh Allah Maha Adil.
November 20th, 2008 at 5:06 pm
Selamat jalan, semoga Allah SWT menjadikannya haji yang mabrur dan mengampuni segala dosa dan menerima semua amal ibadahnya, Amin.
November 21st, 2008 at 3:50 pm
Subhanallah, alhamdulillah terlihat kedahsyatan manusia mencintai dengan ikhlas, bahagia menjalani sepanjang hidupnya dalam menjemput janji Allah..subhanallah. Terimakasih telah berbagi inspirasi indah ini, selamat berhajji mabrur buat kedua orangtua mas Jamil yang ikhlas..
November 27th, 2008 at 8:46 am
Alhamdulillah, selamat jalan untuk bapak Ahmad Zaini dan ibu Wasiyem, semoga kembali menjadi haji mabrur. Selama ini bapak dan ibu telah berhasil menjadikan seorang insan sukses mulia yang telah berbagi kemuliaan dan kesuksesan kepada ratusan ribu orang (yang bila memakai model snowballing effect, tentunya sudah terhitung jutaan insan),dan inilah waktunya berbuah berkah. Mas Jamil, guruku, sahabatku, mentorku, meskipun terlambat (daripada gak tau ya kan?) saya ikut urun doa untuk kedua beliau yang saya hormati.