back to niriah

arrow Kategori

Book

Anakku Tak Mau di Boarding School

Diceritakan Oleh : Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia

Bila anda bertanya kepada saya, sebutkan salah satu pengalaman hidup Anda yang paling berkesan? Saya akan segera menjawab ”saya bisa nyuapin makan siang anak saya di tepian Pantai Anyer.” Kenapa berkesan? Pertama, karena satu mangkok ludes dimakan anak saya, padahal selama ini ia sulit makan.” Kedua, anak saya makan sambil mandi di laut.  Ketiga, saya harus mengejar-ngejar anak saya agar ia mau menghabiskan makanan itu selama kurang lebih satu jam. Keempat, baru kala itu saya diberi appluse dalam urusan nyuapin makan oleh dua anak pertama dan kedua saya.

Anak memang perhiasan. Sungging senyum anak kita tatkala lelah mampu menghapuskan kepenatan. Teriakan, nyanyian, ocehan, gerakan dan tingkah polah mereka membuat suasana rumah bertambah hidup, gundah hati lenyap, dan gairah hidup makin bertambah. Anak-anak kita bak ’malaikat kecil’ yang ditugaskan membahagiakan dan menentramkan hidup kita. Semua itu bisa kita rasakan hingga anak kita masuk sekolah dasar.

Setelah itu, kita sudah merasa bahwa pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah.  Padahal menurut penelitian, selama satu tahun anak-anak kita hanya menghabiskan 60 hari di sekolah.  Angka 60 hari diambil dari; rata-rata anak sekolah selama satu tahun 240 hari, diasumsikan anak-anak menghabiskan 6 jam di sekolah setiap hari. Maka dalam 240 hari jumlah jam yang dihabiskan di sekolah mencapai 1440 jam atau setara dengan 60 hari.

Selebihnya ia berada di luar sekolah. Karena itu, kualitas pertemuan antara orangtua dan anak di rumah, menjadi hal utama dan terpenting untuk bisa diciptakan.  Rumah adalah tempat belajar,  tempat seorang anak mencari jati diri,  tempat anak berbagi, tempat anak mengharap cinta yang tulus, dan rumah adalah tempat berlabuh atas semua hal dalam kehidupan anak.

Bagi Anda yang Anaknya di Boarding School mungkin bisa mengambil pelajaran dari pengalaman saya.  Anak pertama saya (Dhira) sekolah di salah satu boording school di Bogor.  Saya sangat senang karena anak saya lulus seleksi.  Dua pekan atau satu bulan sekali saya mengunjungi dia di sekolah itu. Saya merasa anak saya menikmati sekolahnya sampai saya menerima sepucuk surat dari Anak saya seperti ini

Allow Bapak. Apa khabar? Bapak masih sering pulang malam? Ati-ati lho pak ntar sakit lho! Pak, Dhira kangen nich. Udah tiga minggu lho Bapak nggak nengok.  Tapi kalau bapak sibuk jangan dipaksain.  Nanti kalau dipaksain penggemar kecewa lho.  Kalau bapak ngisi training khan banyak yang seneng.  Lewat surat ini mbak Dhira juga ingin berdoa buat Bapak ”Ya Allah berilah kesehatan buat Bapakku, Mudahkan lisannya ketika ia memberikan training, Jadikanlah setiap kata yang keluar dari mulut Bapakku mengandung makna dan menjadi pahala.  Ya Allah jangan Kau jadikan Bapakku seperti lilin yang mampu menerangi sekitarnya namun kemudian lilin itu musnah. Aku juga kangen ditraining Bapakku.
Ya Allah jangan Kau jadikan aku seperti anaknya nabi Nuh yang tak mau mendengar seruan Ayahnya.  Jadikanlah aku seperti Ismail yang rela disembelih Bapaknya Ibrahim karena taqwanya kepada-Mu.  Ya Allah beri kesempatan kepadaku agar aku sering mendengar ilmu dari Bapakku, Aku rindu senyumnya…aku rindu candanya…Ya Allah aku ingin senyumku sesering mungkin dilihat orangtuaku. Akupun ingin sesering mungkin memeluk adik-adikku.
Jangan marah ya Pak.  I miss you so much. Da…

Membaca surat itu, saya merasa anak saya ingin tetap tinggal bersama keluarga bukan di boording school. Setelah menerima surat itu langsung saya menuju sekolahnya. Dan saya menayakan apakah ia tidak kerasan di sekolah. Jawaban anakku; “aku khan masih SMP, masih ingin menghabiskan waktu bersama bapak, mama dan adik-adikku. Aku ingin semua ilmu, rasa cinta dan kasih sayang keluarga kita mewarnai kehidupanku ketika dewasa kelak”

Mendengar jawaban itu, saya bawa ia pulang ke rumah dan pindah ke sekolah yang memungkinkan ia masih bisa memeluk ibunya, curhat 24 jam dengan saya, bermain petak umpet dengan adiknya, bermain kartu teplok bersama kami sekeluarga, ngobrol santai di ruang keluarga. Dan yang jelas, semua perkembangannya bisa saya amati dengan seksama. Saya tidak ingin kehilangan masa remajanya.

Dhira sekarang sudah lulus SMA. Tinggi badannya sama dengan saya 170 cm. Dalam beberapa hal dia lebih bijak dan baik dibandingkan orang tuanya. Bahkan dengan penuh percaya diri dan penuh keyakinan ia berkata; “Pak, aku sudah puas dan sangat bangga bisa tumbuh bersama keluarga. Saatnya aku ingin kuliah di luar negeri atau tempat manapun yang menjadikan aku lebih mandiri dan memiliki arti.”
Duh anakku…kapan bapak punya mantu ya?he…he…

(Tulisan ini saya buat ketika anak saya masuk SMP, kemudian saya tambah beberap paragraf karena saat ini anak saya sudah lulus SMA. Semoga Bermanfaat. Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia)

Post DIPOSTING OLEH Jamil Azzaini | June 19, 2009

19 Responses to “Anakku Tak Mau di Boarding School”

  1. Luar biasa Pak ! sebentar lagi banyak lamaran masuk pengen jadi mantu pak jamil nich……….

    untuk member TDA dan peserta Kubik apa dapat dispensasi kalo ngelamar mantu …? he.he.he

  2. Honestly, saya sedang ada masalah dengan ayah saya yang seius..

    tetapi setelah membaca ini, airmata saya tak terbendung lagi.. speechless..

    jika diijinkan saya ingin mengutip bbrapa kalimat untuk menjadi status fb saya..

    terimakasih banyak yah pak..

    I Love my father..

  3. alangkah berbahagianya mas djamil punya anak gadis seperti itu, dewasa sekali menurut saya. Saya memimpikan kelak anak perempuan saya juga bisa dewasa seperti itu mas jamil. Butuh perjuangan sepertinya mas, bagi-bagi ilmunya ya?! tentang cara mas jamil mendidik anak. kita tunggu terus

  4. Subhanallah…Inspiratif bagi keluarga muda seperti saya. Terima Kasih

  5. how I wish had a dad that`a amazing… hiks

  6. senyum,haru,ketawa,bangga,luar biasa,subkhanallah….

  7. senno sastro Says:

    saya jadi berfikir lagi untuk pedidikan putri saya, awaknya memang mau ke boarding scholl, ttp dengan membaca artikel ini harus dipertimbangkan dulu dari sudut pandang yg lain..

    salute pak jamil..

    regards

    Sn

  8. benar mas Jamil..cerita ini jadi penambah keyakinan saya..maklum anakku masih 2,5 taon…

    btw terus berbagi cerita mas..
    wassalam

  9. Sang Pengembala Says:

    Subhanallah… Saya terharu sekali… Saya jadi menangis karena tidak mendapatkan kenikmatan seperti anak bapak… Punya bapak yang selalu hangat kepada keluarga dan mampu mendidik anaknya menjadi anak yang dewasa dan bijaksana, sholeh lagi…

    Subhanallah…
    tapi saya masih bersyukur pak,, dengan kondisi sekarang…

    ALLAH SWT Sang Maha Adil dan maha pengasih lagi maha penyayang…

    Pasti Setiap orang diberikan kenikmatan berbeda…
    Dan kebahagiaan yang hakiki hanya akan diterima oleh orang yang bisa bersyukur terhadap segala apa yang diberikan oleh Nya…

    Kita harus senantiasa bersyukur dan berdoa yang terbaik ya pak…

    Semoga sukses selalu pak…

    Minta Doanya agar cita-cita saya terkabul ya pak…
    Amiin…

    Salam bwt nadira dari Sahabat pengembala…^

    Wassalam…

  10. Baca tulisan Pak Jamil, Terasa hangat air mata saya netes di pipi. Saya bisa rasakan betapa kangen anakku yg baru sebulan mondok di Ponorogo. Jarak jauh memisahkan kami. Dua minggu lalu Umiknya ngunjungi, seminggu ini dia (Qowa’id, baru lulus SD) minta ditelp tiap hari. Hampir tiap hari ada tlp dari dia, agar aku tlp balik…..Tidak ada yang penting dari cerita di tlp. Tapi saya bisa rasakan getaran kangen di suaranya…. Aku gak kuat….. kangeeeennn…

  11. ust jamil, cari mantu yg kyk gmn nih? hehe….
    tulisannya bagus sekali…

  12. Abu Nadhmee As-Shobary Says:

    Wss.

    Ya terima kasih atas inspirasi tentang boarding school. Pertanyaannya adalah :
    1. Apakah Dhira mau ke luar negeri dan mau mandiri atas hasil pengaruh boarding school yang tak memaksakan bapaknya (Jamil Azzaini, red.) tidak berkunjung jika sedang sibuk….?
    2. Atau justru niat mau ke luar negeri pengaruh rumah setelah pindah sekolah yang bisa peluk mesra dengan ibunya dan 24 jam dengan pak Jamil? Padahal pak Jamil bisa menghitung berapa lama waktu memberikan training dan ada di rumah? Maksud 24 jam?
    3. Ketika seorang anak itu siap mandiri, apakah diukur dari 9 tahun anak perempuan dan 15 tahun anak laki-laki? Karena banyak di usia dewasa masih juga mau dengan bapak/ibunya!
    4. Saya punya anak laki-laki baru 2.5 bulan, dengan terasa yang pak Jamil sampaikan bahwa anak bisa memberikan inspirasi yang tinggi nilainya. Setelah baca posting antum saya bertanya balik pada diri saya dan bundanya bagaimana niat kita nanti anak (Akaleel Nadhmee, red.) umur 5 tahun akan diboarding school kan…..karena sejak kelahiran pada detik, jam dan hari pertama niat itu sudah ada. Apakah salah apabila niat itu tetap ada?
    5. Dan seolah bahwa ketika anak di asramakan, kita akan kehilangan kasih sayang?
    6. Akan sangat senang apabila rekan-rekan juga ikut komentar posting saya.

    Terima kasih ya
    ANA

  13. Jamil Azzaini Says:

    Walaikumsalam mas ANA
    1. Dhira di Boarding School cuma 8 bulan. Menurut kami kemandirian Dhira diperoleh disekolahnya yang baru (School of Universe).
    2. Disaat-saat tertentu Dhira saya ajak ke tempat saya memberikan training dan setiap hari kami ngobrol intensif.
    3. Boarding School usia 5 tahun menurut saya masih terlalu dini, anak masih butuh kasih sayang dan sentuhan biologis dari kedua orang tuanya. Saran saya, didik anak kita secara optimal dan setelah itu minta bantuan orang lain. Jangan sebaliknya, mendidik anak diserahkan kepada orang lain sementara kita hanya pelengkap.
    Salam SuksesMulia
    JA

    Salam SuksesMulia

  14. Bustanul Ilmi Says:

    Semoga putri ust. jamil bisa se sukses mulia Sang Ayah. Amiin

  15. Subhanallah……….
    tulisannya bikin aku bener2 terharu Pak. mengingatkanku pada papa ku yang sekarang tengah sakit di kota yang jauh. jadi kangen pengen ketemu………andaikan saat itu aku berani “curhat” pada papa seperti hal nya Dhira, putri Pak Jamil…

  16. Subhanallaah.. saya menangis membaca postingan Bapak. Inspiratif n menyentuh. Jadi berkaca diri bagaimana saya memperlakukan anak saya?

  17. terima kasih ustadz atas pencerahannya..
    tadinya saya ingin anak saya masuk boarding school, tapi setelah saya tanya di selalu menolak… saya coba cari referensi tentang pendidikan anak, Alhamdulillah saya berkesimpulan kurang lebih sama dengan ustadz… dan tulisan ustadz ini menambah kuat keyakinan saya…Terima kasih..salam sukes dan mulya untuk kita semua.

  18. Saya termasuk korban bording school… saya sih mandiri sekarang.. tapi rasanya ada yg hilang dari diri saya… mungkin “kasih-sayang” itu…
    Mungkin karena itulah, saya kurang berminat memasukkan anak kami ke bording school.. menurut kami pendidikan di rumah akan lebih baik.. semoga.. Amiin.
    namun bagi yg merasa kurang mampu mendidik n memberikan tauladan bagi anaknya.. mungkin bording school bisa menjadi salah satu alternatif.. hehehe

  19. Inspiratif, baca di kantor sampai mata berkaca-kaca…untung tidak ada yang ngeh. :)
    Sebisa dan selama mungkin saya akan ambil peran mendidik anak, sekuat tenaga saya akan serap semua pahala yang telah ditawarkan Allah kepada saya.
    Terimakasih pak Zamil.

    Ayahanda Zahra Shafiyah & Nabila Nur Shabrina

Leave a Reply