Diceritakan Oleh : Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia
Seorang pebisnis muda datang mengadukan masalahnya kepada sahabat saya yang berprofesi sebagai konsultan spiritual bisnis. Pebisnis itu membuka masalahannya dengan mengatakan “Pak saya memiliki adik yang sangat durhaka. Ketika kuliah saya yang membiayai. Ketika dia menikah saya yang menikahkan dan menanggung semua biayanya. Sekarang berbekal satu kwitansi atas namanya, dia akan menggugat saya ke pengadilan. Dalam gugatannya ia mengatakan rumah yang saya tempati adalah milik adik saya.” Pebisnis muda itu diam diam sejenak sambil menarik napas panjang.
Kemudian dia meneruskan ceritanya “Padahal rumah itu saya beli dengan tetesan keringat saya. Saya nggak habis pikir, mengapa dia tega melakukan ini. Saya minta petunjuk dari Bapak bagaimana menundukkan adik saya. Saya ingin agar adik saya sadar dan tidak usah membawa permasalahan itu ke pengadilan. Saya malu dengan banyak orang.”
Kemudian konsultan bertanya; “dari mana uang yang kamu gunakan untuk membangun rumahmu?” Orang itu menjawab; “dari hasil jerih payah usaha saya. Saya pernah punya usaha pom bensin tapi sekarang sudah bangkrut.”
Terus darimana modal usaha pom bensinmu? desak sang konsultan. Dia terdiam. Setelah menarik nafas panjang, dia berkata ; “modal usaha pom bensin saya peroleh dari hasil penjulan tanah milik ibu saya. Saya jual tanah itu tanpa izin ibu saya. Ibu saya kecewa, tak lama setelah kejadian itu ibu saya dipanggil Yang Maha Kuasa.”
“Itulah sebab musabab problem anda. Memulai usaha dengan uang yang tidak bersih bahkan dengan cara menyakiti ibu kandung anda. Ironisnya, anda belum sempat meminta maaf kepada ibu anda dan dia sudah meninggal dunia.” Jawab konsultan muda itu.
“Terus bagaimana saya selanjutnya?” kata orang itu. Konsultan energik itu menjawab: “Ikhlaskan rumah itu buat adik anda. Kehidupan anda tidak akan berkah dengan rumah yang merupakan buah dari menyakiti ibu anda”
Butiran jernih mengalir di pipi orang itu. Dengan nada tersengal dia berkata; “lalu dimana keluarga saya harus berteduh? Sang konsultan menjawab ; “Allah swt, Tuhan Penguasa Alam Maha Kaya, pasti ada jalan yang akan Dia berikan.” Sesampainya di rumah sang kakak memanggil adiknya, “Adikku daripada kita bertengkar di pengadilan dan hubungan persaudaraan kita rusak hanya karena rumah ini, aku serahkan rumah ini untukmu. Aku ikhlas. Rumah ini sebenarnya milik ibu, bukan milik saya. Mulai hari ini, rumah ibu ini aku serahkan sepenuhnya untukmu.”
Sang adik berdiri dan kemudian memeluk sang kakak sambil berkata ; “kakakku, rumah ini adalah rumahmu maka ambilah. Saya tidak akan meneruskan ke pengadilan. Tinggalah dengan damai di rumah ini bersama istri dan anak-anak kakak. Saya bangga menjadi adikmu. Saya tak ingin kehilangan engkau kakakku…” Keduanya berpelukan dengan linangan air mata di masing-masing pipinya.
Kisah nyata di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa ketika kita berpikir apa yang akan saya dapatkan (to get) maka yang kita peroleh adalah kegelisahan dan permusuhan. Sebaliknya ketika kita berpikir apa yang bisa saya berikan (to give) maka yang kita peroleh kedamaian, rasa hormat, rasa cinta dan persaudaraan.
Tatkala kita berpikir to get pada hakekatnya kita masih terjajah. Terjajah oleh harta, terjajah oleh jabatan, terjajah oleh kepentingan dan terjajah oleh gengsi.
Orang-orang yang merdeka adalah orang yang di dalam dirinya tertanam kuat sikap to give. Bila ia memiliki harta, ilmu dan karunia lainnya ia selalu berpikir kepada siapa lagi saya harus berbagi… berbagi…dan berbagi.
(Tulisan saya ini pernah di Republika tahun 2005, semoga masih relevan dan bermanfaat bagi Anda semua. Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia)
June 26th, 2009 at 10:42 am
Permasalahan seperti itu juga sedang dialami keluarga kami. Mudah-mudahan posting ini bisa membantu. Jazakumullah Ustadz.
June 26th, 2009 at 10:45 am
Yup,hiduplah untuk memberi,bukan meminta.Qt tidak akan menjadi miskin karena memberi.
June 26th, 2009 at 11:07 am
sukses pak,
setelah membaca postingan ini, sy jd lebih bersemangat untuk selalu memberi dan memberi. jazakumullah.
June 26th, 2009 at 4:34 pm
Sebuah kisah yang mengusik hati ini,seolah qt tersadarkan bahwa semua kesenangan duniawi ini hanya semata……….
June 26th, 2009 at 5:26 pm
I had proved this Pak Jamil. Its work and wonderful.
June 26th, 2009 at 6:17 pm
Memang benar kata para bijak `MEMBERI BERARTI MENERIMA`
June 26th, 2009 at 8:19 pm
ketika kita diberi ingatlah selama-lamanya, ketika kita memberi lupakanlah secepat-cepatnya
June 28th, 2009 at 8:54 pm
kisah yang luar biasa..
semakin menyadarkan saya akan arti penting memberi dengan ikhlas..
semakin memotivasi untuk terus memberi dan memberi…
trmks ustadz!!
June 30th, 2009 at 6:42 pm
kisah yg menggugah.. semoga hari ini ke depan kita menjadi orang yg terus memberi.
July 3rd, 2009 at 12:21 am
Menyadarkanku kembali Pak JA. I am so greatful. Thanks.