Beberapa klien saya adalah orang yang kaya raya. Memiliki banyak rumah strategis di beberapa kota besar. Menggunakan mobil sesuai dengan warna baju yang dikenakan. Punya deposito yang bisa digunakan oleh tujuh turunan. Namun beberapa diantaranya pernah bercerita kepada saya: ”Mas Jamil, saya memiliki banyak uang melebih dari yang saya butuhkan. Banyak orang yang mengagumi saya. Tetapi saya sangat tidak bahagia.” Saya bertanya, mengapa ia tidak bahagia. ”Karena saya kehilangan keluarga saya. Istri bertahan hanya karena harta yang saya miliki, saya tak mendapatkan cinta suci dan tulus darinya. Anak-anak tidak mengenal saya dan sayapun tidak mengenal secara dalam anak-anak saya… saya merasa sia-sia membangun kerajaan bisnis, hidup saya terasa hancur.
Saran saya letakkan keluarga Anda menjadi prioritas dalam hidup Anda. Keluarga itu penting. Apalah artinya meraih segala keinginan, tetapi Anda sendirian? Jangan abaikan momentum penting dalam kehidupan keluarga Anda. Anak-anak tumbuh dengan sangat cepat. Tak terasa, tahu-tahu mereka sudah tiada, menjalani hidup mereka sendiri. Rasanya baru satu dua tahun yang lalu saya berenang dengan Nadhira dan Asa di Pantai Carita, anak pertama dan kedua saya. Sekarang Nadhira telah kuliah di Bandung sedangkan Asa tinggal di asrama Sekolah Menengah Atasnya, hanya Sabtu dan Ahad saya bisa berjumpa dengan dia.
Bermain pukul-pukulan bantal dengan Izan rasanya belum satu bulan, namun kini ia sibuk bermain pukul-pukulan dengan para pemain di Play Stationnya. Tak terasa, ia sudah kelas enam dan sebentar lagi remaja. Hana, rasanya baru kemaren saya berlari mengejarnya untuk menyuapi makanan ke dalam mulutnya. Kini ia telah berusia 10 tahun dan bisa pergi sendiri ke restoran cepat saji. Saya tak perlu mengejarnya lagi. Rasanya baru beberapa bulan saya menunggu si bungsu Izul lahir dan menemaninya di rumah sakit Harapan Kita Jakarta. Sekarang, anak yang murah senyum itu telah berumur enam tahun dan menghabiskan banyak waktunya untuk bermain sepeda dengan teman sebayanya.
Pasti perasaan Anda sama dengan saya, ada sedikit rasa sedih melihat anak-anak tumbuh begitu cepat. Belum terlambat, kita masih dapat mencurahkan perhatian kepada mereka dan meluangkan waktu untuk mereka. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mereka.
Pertama, membantu menemukan kekuatan yang ada pada diri anak kita. Setiap anak lahir dengan membawa bakat masing-masing. Bakat ini non heridity, tidak menurun. Dalam pelajaran Biologi kita pernah belajar bahwa Fenotip (yang tampak pada kita) adalah gabungan antara bakat dan tempaan lingkungan. Sebagai orang tua kita harus membantu menemukan bakat yang telah dibawa sejak lahir oleh anak kita. Dan orang tua yang baik akan mendidik dan mencarikan lingkungan untuk anaknya sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Kedua, memberi teladan. Cara terbaik untuk mempengaruhi anak-anak Anda adalah dengan melakukan apa yang Anda katakan. Jalankanlah perilaku yang Anda ingin mereka jalankan. Jangan Anda meminta anak belajar tetapi Anda sendiri sibuk menjelajah dunia maya dan tak pernah terlihat belajar oleh putra-putri Anda. Jangan mengajarkan anak untuk rajin ibadah sementara Anda sibuk menonton televisi ketika panggilan ibadah tiba. Anak akan melakukan apa yang Anda kerjakan bukan apa yang Anda katakan.
Ketiga, kembangkan mereka. Ingat, didiklah anak Anda sesuai dengan zamannya. Untuk itu, Anda tidak hanya berperan sebagai orang tua belaka melainkan mengembangkan pikiran, hati dan jiwa mereka. Ikutkanlah mereka pada kegiatan, acara, lomba atau pelatihan yang dibutuhkan mereka. Bawalah mereka ke tempat-tempat yang dikagumi dunia. Kenalkanlah mereka dengan sahabat-sahabat Anda yang hebat. Ajaklah mereka ke tempat ibadah dan ajarilah bagaimana agar semakin dicintai Sang Pencipta. Perkenalkanlah kepada anak pada apa yang mungkin dilakukan. Dukunglah mereka untuk menjadi orang yang memberi manfaat buat dunia sesuai bakat dan zamannya.
Jangan biarkan anak tumbuh tanpa sentuhan Anda. Sesibuk apapun Anda, luangkan waktu untuk mereka. Sebab bila Anda melupakan mereka ditengah kesibukan Anda, kelak Andapun akan dilupakan tatkala mereka sibuk menjalani kehidupan barunya. Saya yakin, Anda akan merasa bahagia bila saat tua nanti ketika putra-putri Anda sibuk dan mereka masih sempat berkirim SMS atau E-mail: ”Bapak/Ibu, saya menjalani hidup yang indah dan penuh gairah. Terima kasih engkau telah menjadi orang tua yang hebat buat kami. Engkaulah yang menjadikan hidup kami bahagia penuh makna” Sungguh, hidup yang indah bukan?
Semoga Bermanfaat
Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini
November 16th, 2009 at 10:39 pm
terima kasih mas infonya..
saya melihat pada point “memberi teladan” memang sudah seharusnya di contoh banyak orang tua dan pendidik di negeri kita. sudah seharusnya memberikan contoh budi pekerti yang baik dari diri kita sendiri. tindakan mengalahkan kata..
salam sukses
November 17th, 2009 at 4:57 am
Subhanallah, tulisan seperti inilah yang saya cari.
Ini sangat mendukung upgrade materi open mind yang saya sampaikan tentang ‘Menjadikan hidup lebih bermakna’.
Terutama untuk segmen peserta ortu …
Terima kasih Pak Jamil,
Semoga kita mampu menjadi teladan yang Sukses dan Mulia ….
didinsolo@yahoo.com
November 17th, 2009 at 11:18 am
Banyak orang tua bekerja keras agar bisa mewariskan harta yang cukup untuk anak-anaknya. Padahal yang lebih penting, kita juga harus mewariskan keteladanan yang baik dalam menjalani kehidupan ini.
November 17th, 2009 at 2:31 pm
Alhamdulilah, saya semakin semangat untuk menjadi pekerja ajaib dalam kehidupan yaitu membaktikan hidup bagi kehidupan yg diridloi Allah bagi masa depan anak-anak saya. Terima kasih pak Jamil
November 17th, 2009 at 5:39 pm
thanks pak Jamil atas sharingnya, meskipun dunia sudah di tangan kita, tapi tidak semuanya bisa kita miliki seperti kasih sayang anak dan waktu yang hilang. Senang sekali membaca tulisan Bapak, membuat kita untuk lebih memberikan makna pada hidup kita yang singkat ini.
November 17th, 2009 at 7:32 pm
Alhamdulillah, sy sudah mulai merasakan kebahagian hasil “waktu yg pernah sy berikan pada anak-anak” sebuah contoh ketika menerima sms dari sulungku: thanks mom atas doanya, Luv U
November 17th, 2009 at 7:33 pm
Terima kasih Pak Jamil,
Semoga kita bisa menjadi teladan yang SuksesMulia
November 18th, 2009 at 4:22 am
Terima Kasih Pak Jamil. Apa yang ada ungkapkan cukup tepat. Saya tergugah. Perubahan memang cepat dan menuntut kita untuk tepat menyesuaikannya, terlebih pada buah hati kita.
Semoga kita menjadi Teladan yang Sukses Mulia
November 18th, 2009 at 4:26 pm
Dulu, saya begitu sibuk…. Tak ada waktu buat anak-anakku
Sekarang ketika saya sudah banyak waktu…. Anak-anakku begitu sibuk… tak punya waktu buatku.
(Begitu kira-kira yang sempat saya ingat dari ungkapan alm.Rendra. Kata-kata pastinya saya gak hapal)
November 18th, 2009 at 7:29 pm
betul pak jamil..saya aja yg tiap hari dirumah masih merasa waktu itu begitu cepat..dulu kami berempat saja, sekarang anak pertama saya lebih seneng maen sama teman-temannya..padahal baru kelas 1 SD ! … waktu tidak bisa dibeli moms !! jangan tinggalkan anak-anak anda demi mengejar rupiah semata, toh dari rumah juga bisa mencari rupiah..alhamdullilah
November 19th, 2009 at 9:51 am
Alhamdullilah, terima kasih Pak Jamil saya peserta pelatihan ” B S ” di Via Renata Cipanas tgl 14 & 15 Nov 2009 kemarin, merasa semakin banyak membaca tulisan-tulisan Bapak semakin besar pula energi positif yang ingin saya tebarkan untuk semua orang. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang SUKSES-MULIA baik di dunia maupun di Akhirat Amin………
November 19th, 2009 at 11:21 am
Ya, Mas. Saya menyikapi point memberi teladan.
Saya pun merasakan itu. Ketika apa yg kita sampaikan tidak dilakukan, anak-anak malah bersikap semau mereka. Meski sy belum punya anak, tapi keseharian sy bergaul dengan murid-murid sy di SD.
Kadang ketika kita berusaha untuk mengingatkan mereka melakukan shalat, mereka malah leha-leha. Saya pun tidak mengerti. Guru2 sudah berusaha membimbing anak2 dengan baik. Tapi, hari demi hari belum ada perubahan ke arah lebih baik. Anak2 tetap bersikap semaunya. Apa yg mesti kami lakukan, Mas? Syukron tas jawabannya.
November 19th, 2009 at 11:05 pm
Pak Jamil,
Terima kasih atas pencerahannya.
Semoga kita termasuk orang tua yang mampu memberi tauladan mulia pada anak-anak kita, Amin.
January 23rd, 2010 at 11:14 am
thank you pak jamil atas tulisannya:)
Aku ingin kelak mereka bilang bahwa mereka bangga memiliki kami:)
Semoga Allah SWT selalu memberi kesehatan kepada bapak sekeluarga..
Sehingga banyak ide2 menarik yg kamipun turut ikut menikmatinya:)